Kontan 06 November 2007, oleh: Hemat Dwi Nuryanto

Hingga kini kita masih penasaran dengan Tesis Paul Krugman, kolumnis The New York Time dan Professor dari Princeton University, Stanford dan MIT. Yang pada intinya menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada prinsipnya lebih banyak disebabkan oleh perasan keringat, bukan oleh kedigdayaan otak dari segenap eksponen bangsa. Lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi selama ini terjadi karena penambahan input berupa akumulasi modal dan tenaga kerja, dan bukannya peningkatan output. Daya ungkit teknologi seperti yang dialami oleh negara-negara maju tidak terjadi. Penggunaan input yang berlebihan tidak dibarengi dengan kenaikan output per satuan input, hal itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang terjadi tidak akan bertahan lama dan sangat rentan terhadap gejolak eksternal. Termasuk gejolak Subprime Mortgage di AS. Begitu pula dengan gejolak harga minyak dunia yang menuju angka 100 USD per-barel yang disikapi oleh pemerintah secara dingin, padahal dampaknya bisa merontokan perekonomian.
Para penyelenggara negara sebaiknya merenungkan lebih mendalam lagi tesis Prof Krugman yang implikasinya masih relevan. Perlu disadari bahwa definisi ketahanan nasional kedepan akan diwarnai dengan pertarungan talenta dan inovasi. Jika tidak ingin terpuruk terus dalam persaingan global, bangsa ini harus segera membudayakan atau membuat gerakan nasional dengan inisial ?OI? (Open Innovation). Secara kebetulan, dikalangan anak muda Inisial ?OI? merupakan singkatan dari Orang Indonesia, adalah komunitas penggemar Iwan Fals yang konon jumlahnya sangat banyak dan tersebar diseluruh tanah air. Mereka juga melakukan inovasi terhadap lagu-lagu ciptaan Iwan Fals hingga berkembang dan melahirkan produk derivatif yang cukup banyak. Konon, pada awalnya lagu-lagu Iwan Fals juga disemangati oleh budaya OI dari entitas pengamen jalanan. Secara tidak langsung para penggemar Iwans Fals dan seniman Indonesia sebetulnya sudah menjalankan prinsip Open Innovation.
Dalam situasi bangsa yang sedang gonjang-ganjing sekarang ini, dan untuk menghadapi persaingan global Pemerintah hendaknya menggelorakan budaya OI dengan berbagai langkah stimulus. Antara lain menjadikan hasil-hasil riset yang dilakukan oleh lembaga pemerintah sebagai produk ?Open Innovation? yang bisa digunakan oleh rakyat secara mudah. Hasil-hasil riset lembaga pemerintah yang selama ini ?mangkrak? di lemari sebaiknya mulai didistribusikan kepada rakyat luas. Lembaga riset seperti Bakorsurtanal misalnya, harusnya menyebarkan inovasi peta dasar dan peta tematik terkini yang bersifat GIS-Ready kepada publik seperti yang dilakukan oleh ESRI. Hal itu jelas-jelas akan menstimulir kemajuan daerah, entitas bisnis, pariwisata, pertanian, pendidikan dan lain-lain yang mana pada saat ini sudah banyak yang melakukan pendekatan bidang profesinya dengan perangkat GIS (Geographical Information System). Mestinya Bakorsurtanal menyediakan peta dasar dan tematik yang bisa di down load secara mudah dan gratis oleh publik. Toh, berbagai hasil survey dan pemetaan yang dilakukan oleh Bakorsurtanal selama ini dibiayai dari saku rakyat.
Akibat globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat produk baru memiliki daur hidup yang semakin singkat. Di sisi lain, jika ingin survive maka perusahaan harus terus mengeluarkan produk baru. Implikasinya varian dari biaya riset yang semakin besar dan periode waktu yang lebih singkat untuk meraih keuntungan. Akibatnya banyak perusahaan yang tidak mampu mengembangkan produk-produk inovatif. Adalah Henry Chesbrough seorang Profesor di UC Berkeley yang telah melakukan riset panjang tentang OI di lembaga-lembaga riset dan perusahaan besar Amerika Serikat seperti IBM, Procter & Gamble, Air Product. Riset tersebut menghasilkan tiga buah buku kategori best seller yang menyangkut OI. Bukunya yang ketiga berjudul Open Business Models; How to Thrive in the New Innovation Landscape. Profesor Chesbrough telah menyajikan jalur untuk menuju OI bagi perusahaan atau sistem pemerintahan. Termasuk pentingnya membebaskan diri dari Sindrom NIH (Not Invented Here) dan NSH (Not Sold Here) jika ingin menempuh jalur OI. Jalur tersebut juga memberikan alternative bagi Perusahaan untuk selektif memilih beberapa bagian dari proses atau beberapa kompetensi saja untuk dikembangkan lebih lanjut. Bila ada kompetensi atau proses yang bisa diperoleh dengan lebih baik dari pihak luar, bagian tersebut sebaiknya didapatkan dari pihak lain. Apalagi bagi perusahaan yang berbasis hi-tech, dalam mengembangkan produk baru yang benar-benar inovatif, dibutuhkan lintas kompetensi. Contohnya, untuk melakukan inovasi obat-obatan dari rekayasa genetika dibutuhkan keahlian dari bidang-bidang seperti: molecular biology, cell biology, genetics, computational chemistry, bioinformatics, genetic engineering, dan juga computer science.
Untuk membudayakan dan menggelorakan OI pemerintah sebaiknya membentuk semacam lembaga atau wahana civic entrepreneurship. Wahana semacam itu akan menginventarisasi produk-produk inovasi yang dihasilkan oleh lembaga pemerintah maupun swasta yang mampu menjadi solusi masalah kebangsaan terkini. Sebagai contohnya, inisiatif Menkominfo untuk memenuhi Grand Design Sistem Informasi (GDSI) Pemilu dan Pilkada dalam rangka memperbaiki kualitas demokrasi dan terciptanya inovasi e-Demokrasi, hendaknya dipilih ISV (Independent Software Vendor) yang telah intensif mengembangkan e-Demokrasi yang portofolio aplikasinya paling sesuai dengan Design Requirement & Obyectives (DR&O) dari GDSI. Setelah itu inovasi e-Demokrasi yang dikembangkan ISV tersebut bisa dikembangkan sebagai OI untuk keperluan Pemilu 2009 dan Pilkada. Dengan terlebih dahulu pihak Pemerintah memberikan insentif dan jaminan terhadap ISV sang innovator. Langkah diatas sekaligus juga akan menumbuhkan aglomerasi industri kelompok ISV di daerah. Hal serupa juga sangat relevan dilakukan untuk produk EGP (Electronic Government Procurement) dan produk perangkat lunak lainnya. Pengembangan aglomerasi ISV di daerah sangat penting, mengingat impact industri dan ekonominya sangat besar. Data survei IDC menunjukkan bahwa potensi industri software di Indonesia pada tahun 2004 mencapai nilai 104 juta dollar AS, dengan pertumbuhan 9,9 persen. Pada tahun 2005 pasar TI mencapai 1.758 juta dollar AS, dengan pertumbuhan 13,2 persen.
Untuk mengakselerasi budaya OI diperlukan peningkatan kapasitas inovasi di daerah. Dengan akselerasi tersebut, diharapkan pihak daerah dapat mengadopsi indikator pengukuran kapasitas inovatif daerah, dapat saling berbagi dengan daerah lain tentang instrumen kebijakan inovasi yang diterapkan, serta dapat mengakses sumber informasi tentang upaya penguatan sistem inovasi. Contoh sukses tentang peningkatan kapasitas inovasi daerah adalah kota Austin di negara bagian Texas, Amerika Serikat. Tim atau lembaga civic entrepreneurs di Austin berkembang sangat pesat. Dengan indikator berhasil menjadi rumah dari 14 konsorsium industri semikonduktor. Ketua tim dipimpin oleh William Cunningham, dekan business school yang kemudian menjadi rektor University of Texas. Dalam sejarahnya universitas tersebut mengembangkan Advanced Research Park yang menghasilkan Apple, Applied Materials dan 3M. Sejak 1995, Austin menjadi kota dengan tingkat pengangguran terendah di seluruh Amerika Serikat.
Sebenarnya di Indonesia pada saat ini sudah ada platform kenegaraan yang berkaitan dengan kebijakan sistem inovasi. Yakni, amandemen keempat UUD 45 pasal 31 ayat 5 yang mengamanatkan tentang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, UU No 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Inpres No 4 tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi oleh Menteri Riset dan Teknologi, UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, serta UU No 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam rangka implementasi strategi inovasi di tingkat daerah, selain mengacu kepada regulasi yang sudah ada, strategi tersebut juga harus sesuai dengan konteks daerah yang bersangkutan dalam mengembangkan aglomerasi industri yang berbasis OI.

Oleh : Hemat Dwi Nuryanto
Praktisi Telematika, Alumnus UPS Toulouse Perancis

Share