Kompas, Jawa Barat, 31 Januari 2008, Oleh : Hemat Dwi Nuryanto

Eksistensi situs Web pemerintah daerah dengan domain go.id mestinya bisa menjadi jendela informasi online yang sangat bermanfaat untuk memasarkan potensi dan sumber daya daerah. Namun, situs tersebut tetap saja merana dan sepi pengunjung. Situs plat merah itu masih terbelenggu oleh faktor conformity sehingga mirip buletin yang isinya amat menjemukan. Conformity merupakan kondisi yang serba diarahkan dan diseragamkan. Mestinya pengunjung bisa mengunduh informasi bernilai tambah, baik dalam bentuk knowledge maupun kapasitas inovasi daerah. Kondisinya semakin memprihatinkan karena pengelola Situs Web Pemda kebanyakan miskin kreatifitas dan kurang dinamis dalam membuat konten. Alasan klasik seperti tidak tersedianya anggaran operasional yang memadai dan masalah kualitas sumberdaya manusia yang sangat terbatas sebaiknya tidak dijadikan kambing hitam untuk menutupi kekurangan.

Untuk mendongkrak ketenaran situs, caranya tidak sekedar mengatur strategi key-word dan frase lainnya lalu menyesuaikan dengan tabiat atau prilaku mesin pencari ( search engine ). Para internet marketer selama ini hanya mencari trik instan untuk mendapatkan kebaikan hati mesin pencari. Kebanyakan trik instan itu hanyalah mengotak-atik Description Meta Tag ( uraian dari halaman web ). Content yang up-date memang bisa mendukung optimalisasi situs di mesin pencari. Tetapi ada faktor penting yang terabaikan yaitu pentingnya content epilepsy atau kejutan isi yang mampu mencapai puncak pemberitaan dan menghebohkan segenap komunitas. Sebagai contoh aktual fenomena epilepsi adalah berita akhir tahun yang sempat menghebohkan, berasal dari sebuah situs internet tentang “penjualan” dua buah pulau di provinsi NTB. Tak kurang dari petinggi negeri, politisi, praktisi hukum dan seluruh media masa dibuat gusar dan penasaran. Dua pulau yang dilego yakni Pulau Panjang dan Meriam Besar lewat situs karangasemproperty.com akhirnya mencapai puncak pemberitaan dan terdongkrak ketenarannya.

Istilah epilepsi dalam bahasa Yunani berarti kejutan. Istilah itu secara klinis dikenal sebagai penyakit neurologi yang diakibatkan oleh hubungan sejumlah saraf secara hipersinkronik. Tetapi dalam berbagai tataran istilah tersebut digunakan secara metaforik untuk menggambarkan kebudayaan dan kondisi kehidupan yang diwarnai kejutan atau surprise secara hipersinkronik. Para pengelola situs web pemda harus mampu membuat konten yang penuh kejutan tetapi bukan sensasi murahan. Kejutan-kejutan itu dalam konteks proses nilai tambah yang rasional yang disajikan untuk pengunjung. Jenis epilepsi pada situs web pemda bisa berupa sajian kapasitas inovasi daerah sesuai dengan tren global Open Innovation (OI ). Berbagai informasi berharga hasil riset, industri kreatif dan proses rancang bangun yang bisa meningkatkan produktifitas dan menghasilkan uang bisa disebarkan kepada masyarakat luas lewat situs web pemda. Dengan demikian pengunjung selalu menunggu dan menunggu kejutan-kejutan dari situs itu.

Open Innovation dalam situasi bangsa yang tidak menentu seperti sekarang ini bisa menjadi dewa penolong bagi masyarakat. Pemerintah harus berani menjadikan hasil-hasil riset yang dilakukan oleh lembaga pemerintah sebagai produk Open Innovation yang bisa digunakan oleh rakyat secara mudah. Sebagai contoh lembaga riset benih unggul yang menghasilkan buah yang eksotik dan bahan pangan yang bernilai tambah tinggi sebaiknya segera dibuka kepada masyarakat. Begitu juga tentang benih unggul pohon karet dengan waktu panen lebih singkat hasil riset BATAN sebaiknya cepat disebarluaskan kepada petani karet di pelosok Jawa Barat, mengingat harga karet alam sekarang dan dimasa depan prospeknya sangat bagus sehubungan dengan harga minyak dunia yang semakin menggila. Kalau hasil riset dari instansi pemerintah, lembaga swasta maupun perorangan tidak segera dijadikan OI maka akan membusuk ditelan waktu. Apalagi globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat produk baru memiliki daur hidup yang semakin singkat. Adalah Henry Chesbrough seorang Profesor di UC Berkeley yang telah melakukan riset panjang tentang pentingnya OI di lembaga riset dan perusahaan besar Amerika Serikat seperti Texas Instruments, Microsoft, Digital Equipment Coprporations, Silicon Valley. Riset tersebut menghasilkan tiga buah buku kategori internasional best seller yang menyangkut OI. Bukunya yang ketiga berjudul Open Business Models; How to Thrive in the New Innovation Landscape.

Dalam kaitannya dengan industri pariwisata global, data statistik yang dibuat oleh WTO menunjukan bahwa wisman dari negara kelompok besar penyumbang wisatawan dunia seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan Inggris ternyata mereka mencari informasi dan melacak sendiri obyek wisata yang bakal dikunjungi lewat mesin pencari di internet. Dengan demikian situs web pemda punya peran besar untuk menggaet wisman. Tentu saja dengan mengelaborasi berbagai keunikan obyek wisata lewat artikel dan gambar yang bermutu. Peran diatas bisa diperkuat dengan adanya Web 2.0 yang pada saat ini bergerak cepat menyelimuti dunia dengan berbagai aplikasi yang menakjubkan. Web 2.0 memiliki beberapa kecenderungan antara lain; konten yang diciptakan oleh pengguna (user generated content) dan layanan timbal balik bagi penciptaan, pengelolaan, update, dan sharing secara kolaboratif. Selain itu platform Web 2.0 juga memiliki ciri prosedur update otomatis atas konten yang dimasukkan pengguna, dan hal ini menciptakan kondisi informasi dan pengetahuan yang selalu baru, hasil kolaborasi bersama para penggunanya. Akumulasi dari kehebatan Web 2.0 adalah layanan untuk membangun kepercayaan melalui rating,voting, dan sejenisnya, yang membentuk layanan collective intelligent.

Program kerja dari pejabat Pemda yang dimuat dalam situs web hendaknya diperbarui secara cepat dengan gaya jurnalistik investigatif yang menarik. Pejabat pemda dan DPRD harus menyadari hakekat birokrasi modern, dimana spiritnya seakan-akan melakukan Political Race ( berpacu dalam sirkuit politik ). Dengan spirit diatas, akan tumbuh iklim untuk berkompetisi dalam melayani masyarakat secara profesional di segala lini. Sekarang ini masyarakat cenderung tidak sabaran dan selalu menuntut penyelesaian masalah serba cepat. Begitu juga persepsi masyarakat terhadap pemerintah dapat berubah dengan cepatnya. Fenomena ini memperkuat asumsi bahwa implementasi political race menjadi sangat penting. Dromologi yang berarti ilmu berpacu sudah waktunya menjadi bagian dari strategi pembangunan yang harus diaktualisasikan oleh jajaran birokrasi. Menurut Paul Virilio kecepatan menjadi ciri utama dari kemajuan, sehingga membentuk progres dalam tempo tinggi. Korelasinya dengan birokrasi adalah, bahwa demokrasi pada abad 21 dapat diasumsikan sebagai dromokrasi yang berarti pemerintahan dimana kekuasaan tertinggi terletak pada kecepatan. (*)

*) CEO ZamrudTechnology

Share