Pikiran Rakyat, 11 Februari 2008, Oleh : Hemat Dwi Nuryanto
Pada saat ini entitas bisnis memiliki bargaining yang kuat untuk mempengaruhi jalannya pemerintahan dan proses sosial politik yang terjadi ditengah masyarakat. Begitu juga dengan event Pilkada Jabar yang diwarnai dengan wacana Kepala Daerah yang mesti memegang tiket pro-bisnis. Namun, makna dan pengertian pro-bisnis itu sendiri masih terkesan dangkal, meskipun beberapa parameter telah menjadi acuan. Bahkan, tiket pro-bisnis bisa berkonotasi negatif manakala mental pengusaha semata-mata hanya memanen proyek pemerintah dengan cara KKN. Pengusaha hendaknya tidak hanya memanen dalam arti mengambil keuntungan instan dari kondisi yang sudah rutin, tanpa berjuang dan berinovasi serta menciptakan usaha baru. Pemerintah akan bertepuk sebelah tangan jika para pengusaha bermental jago kandang dan tidak mampu menjalankan perusahaannya sesuai tren dan persaingan global. Berbagai stimulus dan infrastruktur bisnis lewat pelayanan elektronik seperti program One Stop Service ( PTSP) menjadi kurang optimal jika kondisi bisnis di negeri ini tidak kompetitif dan miskin inovasi. Perlu dicatat bahwa di dunia ini setiap tahunnya muncul jutaan bisnis baru. Ada yang memulai dengan berkantor di rumah. Ada juga yang patungan modal dari kawan-kawan untuk menggapai mimpi. Searah dengan itu Jawa Barat telah bertekad menjadi provinsi entrepreneur yang dipimpin oleh Kepala Daerah yang mengedepankan prinsip persaingan sehat. Sayangnya, belum ada data akurat yang menyangkut pionir usaha dan pasang-surut bisnis di provinsi ini dari tahun ke tahun. Seperti halnya di Amerika Serikat, menurut US Cencus Bureau pada saat ini terdapat lebih dari 27 juta bisnis di AS dan itu belum termasuk jutaan bisnis yang mengisi formulir pajak sebagai individu. Disebutkan juga bahwa setiap tahun disana terdapat lebih dari 40.000 bisnis yang bangkrut. Penelitian juga menunjukkan bahwa empat dari lima bisnis baru disana telah gagal di lima tahu pertama. Apakah ada yang tidak beres atau sesuatu yang salah, padahal iklim berusaha, teknologi, infrastruktur, dan tata pemerintahan di sana sudah sedemikian bagus ? Ternyata rintangan bisnis selalu lahir seiring dengan kemajuan proses bisnis itu sendiri. Dan untuk melompati rintangan bisnis itu tidak bisa hanya ditanggulangi dengan kompetensi para spesialis. Ada empat rintangan bisnis dengan skala yang berbeda, yakni rintangan Kognitif, Sumber Daya, Motivasi dan Politik. Dibutuhkan sense of detail yang kuat untuk mengatasi empat rintangan klasik diatas. Pentingnya gaya manajemen yang mampu melahirkan think big namun berkarakter rendah hati hingga menyadarkan banyak pihak tentang pentingnya transformasi strategis untuk melewati rintangan tersebut. Rintangan pertama yang mesti dilompati adalah rintangan Kognitif, yakni menyadarkan kepada karyawan akan pentingnya transformasi strategis dan melepaskan diri dari belenggu status quo. Untuk itu para CEO kaliber dunia selalu menekankan realitas kompetisi yang keras. Rintangan kedua yang harus dilompati adalah rintangan Sumber Daya. Realitas pahit tentang kurangnya sumber daya acapkali menjatuhkan moral. Untuk melompati rintangan sumber daya diperlukan strategi horse trading. Adalah strategi yang mentransaksikan atau menukarkan kelebihan sumber daya unit dengan yang lain dalam tempo yang cepat. Rintangan ketiga adalah Motivasional, yakni SDM perusahaan yang motivasinya rendah sehingga tidak mampu menjalankan kerja detail dan cenderung menempuh jalan pintas. Idealnya perusahaan membutuhkan SDM yang mampu berperan sebagai kingpins, yakni sosok yang bisa memicu terjadinya gerakan energi positif dan memiliki kemampuan persuasif dalam membuka akses pada sumber daya. Analog dengan permainan bowling, jika kita mampu membidik kingpin ( pin utama ), maka pin yang lainnya ikut menjadi target. Untuk mencapai semua itu pentingnya tasawuf korporasi sebagai sumber energi motivasi. Tasawuf korporasi akan timbul jika perusahaan itu bersifat eupsychian management. Eupsychian berasal dari kosa kata “eu” yang artinya baik dan “psyche” yang artinya jiwa. Rintangan keempat yang harus dilompati adalah rintangan Politik. Untuk melompati rintangan politik biasanya diperlukan consigliere, yakni sosok yang mampu bernegosiasi secara cepat serta memahami berbagai jebakan struktural dan finansial. Supaya berhasil melompati berbagai rintangan dan memenangkan kompetisi bisnis dibutuhkan SDM bertipe Versatilis ( Versatilists ). Tipe seperti itu pada saat ini tidak hanya diperlukan untuk perusahaan multinasional yang bergerak di bidang TIK ( Teknologi Informasi dan Komunikasi ), tetapi juga sangat dibutuhkan oleh perusahaan lain, bahkan juga untuk kalangan birokrasi. Bermula dari kajian The Gartner Group, yakni konsultan teknologi terkemuka di Amerika yang membuat istilah untuk menggambarkan tren dalam dunia teknologi informasi yang mulai meninggalkan spesialisasi dan menuju ke karyawan serba bisa dengan daya adaptasi yang tinggi. Gartner menyebutnya dengan istilah versatilis, yang secara harfiah berarti orang yang serba bisa. Menurut kajian Gartner membangun kemampuan serba bisa karyawan dan menemukan karyawan yang sudah atau mau menjadi versatilis akan menjadi pesona baru bagi perusahaan masa depan. Lebih lanjut kajian Gartner menyatakan bahwa para spesialis umumnya memiliki keahlian yang dalam, namun berwawasan sempit, sehingga mereka hanya dikenal oleh rekan-rekannya dan jarang dihargai di luar entitas mereka. Dilain pihak para generalis memiliki wawasan luas, namun keahlian yang mereka miliki dangkal. Sebaliknya, para versatilis menerapkan kedalaman keahlian pada lingkup dan pengalaman yang lebih luas, mendapatkan inovasi baru, tak henti-hentinya membangun jejaring sosial, dan selalu memberikan komitmen emas “bring you to be more competitive” terhadap relasi atau pelanggannya. Betapa mendesaknya bagi entitas bisnis di tanah air untuk mencetak kaum Versatilis. Kaum ini semakin dibutuhkan untuk memecahkan berbagai permasalahan bisnis. Namun, Versatilis tidak bisa terlahir secara tiba-tiba, tapi harus melalui tahapan dan pengalaman matang menjadi seorang spesialis terlebih dahulu. Sosok Versatilis juga sangat memahami fenomena Kurva-S (S-curve) yang merupakan sebuah model matematika yang dipakai beberapa disiplin ilmu. Di bidang TIK misalnya, kurva-S dipakai untuk menggambarkan laju perkembangan kinerja suatu produk teknologi hingga produk teknologi tersebut mencapai maturity point hingga digeser atau disalib oleh produk teknologi baru. Kaum Versatilis sangat memahami di bagian kurva manakah produk itu berada. Sehingga ada antisipasi berpindah ke teknologi baru sebelum produk lama mencapai maturity point. Pada saat ini kinerja para Versatilis semakin dimanjakan dengan adanya BPMS (Business Process Management System). Yakni perangkat lunak yang disediakan untuk membantu organisasi dalam mengelola proses bisnis. Mulai dari tahap perancangan, otomasi, eksekusi, hingga tahap monitoring. Tahapan tersebut dikenal sebagai siklus hidup proses bisnis. Dengan BPMS siklus hidup tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan proses modeler. BPMS tidak hanya menyediakan sarana untuk menggambar flow-chart melainkan juga simulasi jalannya flow-chart tersebut. Hal ini sangat membantu karena ia dapat memprediksi jalannya proses bisnis dengan lebih akurat. BPMS juga menyediakan tool rancang bangun software yang dapat mempermudah pekerjaan software developer. Tool tersebut merupakan RAD (Rapid Application Development) yang menyediakan berbagai fitur yang dapat mempermudah pembangunan komputerisasi proses. Berbagai fitur yang disediakan antara lain : drag-and-drop form designer, drag-and-drop report designer, source code editor dengan fasilitas syntax highlighting, workflow framework, database designer yang mendukung berbagai basis data seperti Oracle, SQLServer, PostgreSQL, MySQL, dan lain-lain.
*) CEO Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Perancis
Share
Leave a reply