perep1.jpg      

Usia Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang mencapai 63 tahun telah melahirkan banyak pemimpin dengan gaya dan kapasitasnya masing-masing. Tak pelak lagi, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang tangguh dalam perjalanannya menuju negeri harapan. Dialektika kepemimpinan bangsa tidak bisa dikotomikan dalam kotak sempit yang mempertentangkan usia, tingkat akademis, jenis kelamin, profesi, atau genetiknya. Karena faktor terpenting dalam memilih pemimpin adalah kecintaan yang tulus dari rakyatnya. Kecintaan itulah yang menjadi modal utama seorang pemimpin untuk menggerakkan roda organisasi menuju cita-cita bersama. Jika diasumsikan sebagai perusahaan, maka Indonesian Incorporated sekarang ini sedang membutuhkan CEO Zeitgeist. Yakni pemimpin yang benar-benar mampu mengendalikan semangat jaman untuk menuju negeri harapan sesuai dengan cita-cita kemerdekaan. Sebagai CEO Zeitgeist untuk Indonesian Incorporated dirinya harus mampu menciptakan economic value sebesar-besarnya di negeri yang kaya dengan sumber daya alam ini.

Istilah Zeitgeist berasal dari bahasa Jerman yang secara harfiah berarti jiwa dari suatu waktu (time spirit). Istilah tersebut juga sering kita jumpai dalam ucapan dan tulisan para perintis dan pendiri Republik Indonesia yang berjiwa progresif dan revolusioner. Gelora jiwa revolusi kemerdekaan pada prinsipnya dipompa oleh pemimpin yang piawai membaca dan menganalisa semangat jaman untuk menyusun agenda aksi serta melakukan perubahan secara sistemik. Dalam konteks globalisasi gelombang ketiga sekarang ini makna Zeitgeist mencuat kembali. Sampai-sampai Google memberi makna tersendiri sebagai “the general intellectual, moral, and cultural climate of an era” (intelektual, moral dan kultur umum pada suatu era). Lebih dari itu Google juga menjadikan Zeitgeist sebagai perangkat yang mampu menyimpulkan istilah apa yang populer dalam pencarian. Dengan demikian Google memiliki tambang emas informasi berupa jutaan pertanyaan pengguna internet setiap detiknya. Tidak berlebihan jika tata ekonomi dunia baru sekarang ini diwarnai dengan mahzab Googlenomics.                  

Bukan berarti kaum tua ( usia lebih dari 50 tahun ) tidak mampu mengendalikan semangat jaman. Namun, sejarah sering menunjukkan bahwa kaum belia lebih mudah mengendalikan semangat jaman dan berani membuat perubahan mendasar. Orang tua saya pensiunan guru yang tinggal di suatu desa di Kabupaten Purworejo menyatakan bahwa anak muda itu ”kaduk wani kurang deduga” ( kelewat berani tapi kadang-kadang kurang perhitungan ). Itulah kekuatan dan keajaibannya sekaligus kelemahannya. Hanya dengan “Vivere Pericoloso” para aktivis belia itulah dominasi kolonialisme dan imperialisme dapat dijebol secara revolusioner. Sejarah kebangsaan kita telah menyajikan kehebatan para politisi belia. Banyak di antaranya malah mencapai puncak karier politik dalam usia yang masih sangat belia. Bung Syahrir, katakanlah, ia terpilih menjadi Perdana Menteri RI yang pertama pada usia 36 tahun. Kemudian Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama saat usianya 35 tahun. M.Natsir menduduki kursi Perdana Menteri pada usia 42 tahun. Bung Karno menjadi Presiden pertama RI ketika berusia 44 tahun. Dan sederet lagi usia belia para tokoh dan pemimpin pergerakan Indonesia Merdeka pada tempo dulu. Yang membuat jalannya revolusi menjadi sustainable, dinamis dan menggelora seperti energi kawah gunung Merapi.                 

Layar sejarah telah menyajikan lakon, betapa belianya politisi dan pemimpin Indonesia tempo dulu. Dalam usia yang sangat belia mereka telah malang melintang, dan jatuh bangun dalam perjuangan politik. Hebatnya lagi, meski belia, tradisi intelektual mereka telah mencapai tingkat kematangan. Yang dalam perspektif  sekarang ini sangat sulit dicari tandingannya. Indikator kematangan itu terlihat terang benderang ketika kita mau membaca gagasan dan pemikiran dalam karya tulisnya. Mereka adalah figur-figur “intelektual publik” yang sangat artikulatif dan visioner. Dengan predikat sebagai intelektual publik itulah, maka rakyat luas mudah memahami ide, gagasan dan sepak terjang kepolitikannya. Dalam usia yang sangat belia Bung Karno sebagai intelektual publik menulis Indonesia Menggugat yang sangat menggetarkan dunia. M.Natsir menulis beberapa artikel ideologis dan kemudian dikumpulkan dalam Capita Selecta yang mencerahkan kehidupan demokrasi pada saat itu. Bung Hatta menulis Indonesia Merdeka dan sederet tulisan lainnya. Bung Sjahrir menulis Renungan dalam Tahanan. Mereka adalah aktivis belia sekaligus intelektual publik yang benar-benar mengagumkan.                 

Dalam konteks Indonesian Incorporated yang berdaya saing global dibutuhkan CEO Zeitgeist yang mampu menjalankan grand strategy untuk mewujudkan kemajuan dan kemakmuran rakyat. CEO Zeitgeist merupakan  pemimpin yang efektif, sederhana dan mampu mempengaruhi, mengarahkan, dan mengajak, rakyatnya untuk berjalan menuju negeri harapan. CEO Zeitgeist untuk Indonesian Incorporated pada saat ini dan dimasa mendatang harus mampu mengartikulasikan ikon semangat revolusi kemerdekaan RI. Pada masa itu ikon tersebut berbentuk kepalan lima jari tangan menjulang keatas. Ikon bergambar kepalan tangan itu berbentuk poster bertuliskan “ Ayo, Bung ! ” hasil kolaborasi empat orang yaitu Bung Karno sebagai pemberi ide, pelukis Affandi sebagai penerjemah ide di kanvas, penyair Chairil Anwar sebagai pemberi teks, dan pelukis Sudjojono sebagai penata letak. Siapapun rakyat Indonesia pada waktu itu akan terpompa motivasinya melihat poster itu. Sekedar catatan, bahwa Ikon kepalan tangan menjulang keatas itu hingga era sekarang ini konteksnya masih sangat relevan. Dan merupakan filosofi dari kepemimpinan korporasi kontemporer yang esensinya merupakan unsur sinergi dari lima jari tangan manusia. Unsur itu meliputi Leader as a communicator (ibu jari), leader as a developer (jari telunjuk), leader as motivator (jari tengah), leader as a trust builder (jari manis), leader as creativity (jari kelingking). Jika semua unsur itu terwujud secara baik dalam sistem kepemimpinan nasional maka perjalanan menuju negeri harapan semakin singkat.

Share