Orang bijak menyatakan bahwa “Badai pasti berlalu”. Namun, setelah badai berlalu banyak pihak yang terlena kembali. Padahal, badai krisis ekonomi global memberikan pelajaran berharga agar kita berani banting setir menuju pranata yang lebih adaptif, efektif dan efisien. Pranata tersebut akan diwarnai oleh dua perkara  yang sangat relevan, yakni menyangkut implikasi tesis Paul Krugman dan nilai bisnis Wikinomics yang mulai mencerahkan dunia.

Paul Krugman berhasil meraih hadiah Nobel Ekonomi 2008 lewat karyanya mengenai dampak skala ekonomi  terhadap sektor perdagangan dan lokasi bisnis. Lebih lanjut premis Krugman menyatakan bahwa makin banyak barang dan jasa diproduksi di satu pabrik yang sama, maka biaya produksi akan lebih murah. Premis itu melahirkan konsep skala ekonomi yang sekaligus merontokkan teori comparative advantage. Kerontokan itu semakin cepat dengan perkembangan teknologi, utamanya konvergensi TIK (teknologi informasi dan komunikasi). Mencermati karya Krugman yang berjudul Trade and Geography : Economies of Scale, Differentiated Products and Transport Costs. Ada benang merah antara geografi ekonomi dengan perdagangan internasional. Jika perdagangan internasional berbicara mengenai transaksi perdagangan antar negara, maka geografi ekonomi lebih berfokus pada arus migrasi individu atau perusahaan yang melampaui batas-batas geografis. Geografi ekonomi juga mencermati bagaimana konsentrasi aktivitas ekonomi di perkotaan semakin meningkat dan bagaimana kota-kota tersebut mengorganisasi dirinya sendiri. Dari analisis itu lahirlah konsep skala ekonomi di mana Krugman berhasil memformulasikan teori baru mengenai dampak perdagangan bebas dan faktor-faktor penentu terjadinya migrasi global. Krugman juga mengungkapkan bahwa ada kecenderungan pekerja bermigrasi ke wilayah pusat pekerja terbesar yang akhirnya akan menciptakan variasi produk yang sangat beragam.

Tesis Krugman yang menyangkut geografi ekonomi dan migrasi global akan diakselerasi oleh fenomena Wikinomics. Sebagai gambaran nyata bahwa hingga saat ini sekitar 40 persen karyawan IBM tidak lagi bekerja di kantor tradisional. Mereka telah memakai ruang kerja Wikinomics sehingga tubuhnya tidak harus terpaku di ruang kerja tradisional. Ruang kerja Wikinomics tidak sekedar metode telecommuting, tetapi aspeknya lebih luas lagi. Dengan ruang kerja Wikinomics komunikasi karyawan mengalir secara elektronik melalui blog, wiki, instan- messaging, konferensi video, dan berbagai perangkat kolaboratif korporat. Dimasa mendatang pengertian migrasi globalnya Krugman adalah para Net Gen yang akan memasuki dunia kerja kolaborasi dalam jumlah yang besar.

Beberapa waktu yang lalu Krugman juga pernah ”menampar” konsep atau strategi pembangunan ekonomi negara berkembang termasuk Indonesia. Karena pertumbuhan ekonomi Indonesia pada prinsipnya lebih banyak disebabkan oleh perasan keringat, bukan oleh kedigdayaan otak berupa kreatifitas dan inovasi dari segenap eksponen bangsa. Pertumbuhan ekonomi yang selama ini terjadi tidak bermutu karena penambahan input berupa akumulasi modal dan tenaga kerja, dan bukannya peningkatan output. Daya ungkit teknologi seperti yang dialami oleh negara-negara maju tidak terjadi di sini. Penggunaan input yang berlebihan tidak dibarengi dengan kenaikan output per satuan input, hal itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang terjadi tidak akan bertahan lama dan sangat rentan terhadap gejolak eksternal. Namun, tamparan Krugman itu belum menyadarkan para penyelenggara negeri ini.

Suatu bangsa akan bisa mengakselerasi tesis Krugman dengan baik apabila berhasil mewujudkan empat  driver Wikinomics, yakni  Web 2.0, Net Generation, Social Revolution : The Rise of Collaborative Community  dan  Economic Revolution From Industrial Age Enterprise, To Extended Enterprise, Web Based Business to Mass Collaboration. Dengan kemudahan akses TIK  menjadikan orang mudah melakukan kolaborasi, menciptakan nilai tambah secara pribadi dengan orang lain di berbagai belahan dunia. Kebebasan setiap orang untuk melakukan kolaborasi ini telah menciptakan inovasi baru sehingga menciptakan keadilan di berbagai sektor ekonomi. Tak pelak lagi, jutaan orang telah tergabung dalam kolaborasi yang dapat memproduksi barang atau jasa. Tren inovasi tersebut dinamakan peer production atau peering. Tren itu menggambarkan bagaimana kolaborasi masa berhasil mengendalikan inovasi dan membuat industri mereka tumbuh cepat. Beberapa contoh dari peering ada di sekitar kita. Salah satu contohnya adalah MySpace telah memiliki ratusan juta pengguna. Dimana masing-masing pengguna memiliki foto, profile, blog, koneksi masing-masing sehingga menciptakan nilai tambah yang bisa dinikmati oleh pengguna lain.

Fenomena Wikinomics akan mencerahkan dunia sekaligus merupakan ancaman bagi pihak yang terlena atau tidak siap. Bisa jadi hal itu merupakan ancaman yang tidak disadari sejak awal oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Wikinomics telah menggelar karpet merah bagi pengembangan model bisnis baru bagi banyak perusahaan, baik dalam hal content, commerce, digital cash, R&D, financial, banking, insurance, telecommunication, dan lain-lain. Gelaran itu semakin memperjelas mengapa Google begitu bersemangat memasuki bisnis selular. Tak pelak lagi, Google mulai menjadi ancaman bagi operator telekomunikasi di tanah air. Kolaborasi massal sudah mengubah cara barang dan jasa diciptakan dalam perokonomian, dan kini menjadi kekuatan yang kian besar di tempat kerja. Perusahaan yang menerapkan prinsip Wikinomics akan menciptakan organisasi kompetitif yang memanfaatkan kemampuan internal dan eksternal dengan lebih efektif. Hal itu ditunjukkan oleh Novartis. Yakni perusahaan yang lahir hasil merger antara Sandoz dan Ciba-Geigy yang beroperasi di 144 negara dan memiliki banyak sekali institusi riset dan memiliki riset terbesar  di dunia untuk penyakit tropis. Novartis pada 2007 merilis seluruh data mentah mengenai hasil riset tentang dasar genetika Diabetes tipe 2. Dengan demikian setiap orang dan perusahaan bebas memanfaatkan hasil riset yang menghabiskan dana jutaan dollar itu. Langkah Novartis tersebut adalah untuk mentransformasikan dirinya menjadi model perusahaan kolaboratif dengan sebutan ”Enterprise 2.0”. Langkah transformasi itu ditandai dengan empat prinsip yakni keterbukaan, peering, berbagi dan bertindak global. Dengan demikian Enterprise 2.0  adalah entitas bisnis baru  yang membuka pintunya bagi dunia, melakukan inovasi bersama dengan semua orang, berbagi sumber daya, dan memanfaatkan kekuatan kolaborasi massal. Akhirnya Novartis merobohkan pintu laboratorium tradisionalnya, lalu memanfaatkan lebih banyak pikiran ilmiah terbaik di dunia.

*) CEO Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Perancis

Share