Pikiran Rakyar, 12 Februari 2009
Pascapencontrengan nasional merupakan masa yang sangat rawan dan sensitif. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem informasi KPU yang mampu menghitung secara cepat dan akurat serta tersedianya tabulasi bisa diakses secara luas. Konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), sangat mewarnai perjalanan demokrasi di muka bumi. Namun, ada faktor penting menyangkut sistem informasi, yang dipilih untuk mendukung penyelenggaraan Pemilu 2009. Hal itu, sebaiknya mempertimbangkan proven technology dan melihat track record serta reputasi penyedianya. Dengan demikian, Pemilu 2009 tidak digunakan sebagai lahan uji coba suatu produk atau teknologi apa pun. Pilihan teknologi harus process driven, yakni berorientasi kepada perbaikan, bukan vendor driven yang semata berorientasi pada penyedia teknologi tertentu. Pengalaman pahit terhadap kinerja teknologi informasi Pemilu 2004 yang banyak mendapat kritikan hendaknya tidak terulang lagi.
Sebaiknya, ada transformasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan solusi jitu, terhadap kompleksitas sistem pemilu di negeri ini. Transformasi itu mengacu Grand Design Sistem Informasi Komisi Pemilihan Umum (GDSI-KPU). Fasilitas input data, database hasil penghitungan suara, dan sistem tabulasi merupakan unsur utama dari penghitungan suara elektronik (e-Counting atau Situng). Sedangkan e-Counting atau Situng hanyalah salah satu komponen (aplikasi) dari 28 komponen dari GDSI-KPU, yang dibutuhkan untuk mendukung tahapan pemilu. Ibarat bangunan, GDSI-KPU adalah rancangannya, Sistem Informasi KPU (Sipemilu) adalah bangunannya dan e-Counting atau Situng adalah pintunya. Fasilitas input data barbasis Optical Recognition Technology (ORT) dan tabulasi adalah pintu utama. Sedangkan fasilitas input data dengan cara manual adalah pintu darurat. Kajian tim ahli KPU tentang fasilitas input data menyatakan bahwa dari sisi kualitas yang mencakup kemudahan pengisian form C1-IT, kemudahan dan kecepatan entry data, akurasi, integritas, dan akuntabilitas data serta faktor keamanan, maka penggunaan ORT jauh lebih baik bila dibanding dengan input data manual.
Proven technology untuk mematangkan sistem informasi bagi lembaga penyelenggara pemilu, telah menjadi keharusan bagi negara demokrasi. Seperti halnya di Amerika Serikat, pernah terjadi kesalahan atau kekurangan dalam sistem teknologi informasi pemilunya. Kesalahan itu biasa disebut compatibility problem. Oleh karena itu, Amerika Serikat sekalipun membutuhkan proses pematangan sistem informasi pemilunya, yakni Delacroy. Sekadar catatan, Delacroy Voting System merupakan suatu perkembangan teknologi untuk mengatasi perhitungan suara secara manual dan menggantinya dengan sistem komputerisasi suara. Kongres telah menyetujui perusahaan tersebut dan menyatakan bahwa perusahaan itu mempunyai peran dan terus mengembangkan metode pemungutan suara, yang lebih praktis dan sangat akurat. Proses pematangan itu di Indonesia analog dengan kajian tim ahli TI KPU, yang menyatakan bahwa proyeksi sistem pemungutan dan penghitungan suara di masa depan, akan menggunakan e-Voting yang didukung teknologi Optical Character Recognition (OCR) dan Optical Barcode Recognition (OBR) sebagai alat untuk menjamin auditabiltas dan akuntabilitas e-Voting.
Mestinya, bangsa Indonesia tidak mengulang pengalaman pahit terhadap sistem informasi Pemilu 2004. Di mana tabulasi data yang disajikan, ternyata kecepatan, kelengkapan dan akurasinya kurang memenuhi tuntutan atau aspirasi rakyat. Pada waktu itu, beberapa pihak sampai mendesak KPU untuk menghentikan penghitungan suara lewat teknologi informasi. Namun, proses demokrasi mustahil dilangsungkan secara ideal tanpa melibatkan TIK. Keterlibatan TIK dalam pemilu dikategorikan menjadi tiga hal, yakni sebagai tools, enabler, dan transformer. Keterlibatan sebagai tools adalah berperan sebagai pendukung jalannya organisasi penyelenggara pemilu dan komputerisasi dari back office. Di sini, TIK masih merupakan pelengkap dalam tahapan pemilu. Sedangkan sebagai enabler terwujud, jika TIK sudah menjadi penggerak tahapan pemilu serta menghasilkan efisiensi yang signifikan bagi organisasi penyelenggara pemilu. Sedangkan TIK sebagai transformer yaitu sebagai penentu arah transformasi organisasi penyelenggara pemilu menuju efektivitas pemilu, reduksi biaya, dan waktu secara signifikan dengan prinsip otomatisasi dan rekayasa ulang proses (process reengineering). Pemilu 2004 dan pemilu sebelum era reformasi, menjadikan TIK baru sebatas tools dan pelengkap. Pada penyelenggaraan Pemilu 2009 ini, mestinya TIK ditingkatkan fungsinya sebagai enabler. Pada Pemilu 2019 diproyeksikan sudah terjadi proses transformer, di mana pemungutan suara sudah bisa dilakukan dengan prinsip otomatisasi, rekayasa ulang proses, dan termasuk penggunaan mesin e-Voting generasi baru yang memenuhi kriteria verifiability dan auditability.
Dalam Pemilu 2009, input data suara secara elektronik direncanakan menggunakan prinsip Integrated Input Technology (IIT), yang terdiri dari Intelligent Character Recognition (ICR), Optical Mark Reader (OMR), data entry melalui aplikasi, dan data entry dengan digital form (e-Form). Dengan prinsip itu, data/file (misal hasil scaning form C1) dan database hasil konversi serta tabulasinya dapat disimpan lebih baik dan menjadi arsip KPU provinsi/kabupaten/kota yang dapat ditampilkan kembali dengan mudah dan cepat apabila diperlukan. Jika pada suatu saat terjadi sengketa hasil penghitungan suara, file arsip tersebut dapat dimunculkan dan dijadikan salah satu alat bukti yang valid. Dengan demikian, hasil penghitungan suara pemilu tersebut, menjadi lebih akuntabel dan auditabel. Solusi teknologi itu sangat membantu mewujudkan tabulasi hasil pemilu secara cepat dan menarik. Dengan demikian, rakyat tidak dirundung situasi ketidakpastian. Sungguh tontonan yang menarik bila penayangan hasil penghitungan suara didukung perangkat lunak tabulasi grafis berbasis business intelligence dan digital dashboard, yang merupakan suatu sistem informasi yang berfungsi untuk menampilkan data hasil penghitungan suara di setiap wilayah maupun daerah pemilihan, untuk calon anggota DPR dan DPD yang mempunyai kemampuan analisis data (analisis politik/demokrasi) dan memiliki fasilitas reporting yang lengkap berbasis GIS ((geographic information system) dan digital dashboard dengan tampilan grafis.*
Penulis, Tim Ahli Teknologi Informasi KPU, alumnus UPS Toulouse Prancis.
Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Dedy Syafwan
February 15th, 2009 at 6:25 am
wah..tulisannya bagus mas..
hanya aku melihat masalah yang akan kita hadapi di Pemilu 2009 masih hampir sama dengan Pemilu 2004, secara teknis adalah masalah keabsahan dan keakuratan data yang menjadi sumber data bagi sistem teknologi informasi yang akan digunakan. rasanya kita perlu membagi wilayah Indonesia Raya ini menjadi 3 zona sumber data dan SDM, yaitu zona aman, sulit dan sangat sulit (Remote Area). Aku melihat, ini masalah tersulit yang akan kita hadapi. Belajar dari Pemilu 2004, ada sekitar 20% data yang tidak berhasil masuk ke Tabulasi Nasional, dan ini diperkirakan menjadi ajang dagang sapi para politisi. hehe..sekali lagi kita lah yang menjadi korbannya.aku juga melihat Sistem organisasi KPU di tingkat desa dan kecamatan juga masih sama buruknya di Pemilu 2004 karena pola rekrutmen yang seadanya. tampaknya yang terpenting dari kegiatan Pemilu 2009 ini adalah bagimana para politisi partai mempersiapkan kadernya di daerah daerah untuk mengawasi secara ketat dan berjenjang dengan dilengkapi alat bukti yang lengkap (sesuai UU, Keppres) untuk menjadi dasar bersama memperoleh kepastian data hasil perhitungan suara. Disinilah sistem TI berperan membantu parta partai. Sedangkan secara non teknis, sistem birokrasi kita masih belum optimal mendukung penggunaan sistem TI sebagai kebutuhan berbangsa dan bernegara. aku juga mau tanya, apakah Data hasil Suara yang ditampilkan melalui sistem TI untuk 2009 ini sudah diakui secara legal oleh negara?karena pengalaman di 2004, data yang dihasilkan oleh Sistem berbiaya 200 milyaran tersebut hanya dianggap sampah saja, karena tidak dapat digunakan sebagai alat bukti di MK.
Terima Kasih
Wassalam
Humbang Hasudutan
February 15th, 2009 at 12:14 pm
Harusnya Pak Hemat dan Pak Dedi bisa membuat yang lebih baik dengan biaya yang lebih murah. Seperti yang ditulis, IT 2004 itu boros, jelek, dihack, dan percuma, semua itu pengalaman yang pahit. Syukurlah Pak Dedi dan Pak Hemat sudah menjadi Tim Ahli TI KPU.
Dedy Syafwan
February 15th, 2009 at 2:54 pm
sekedar tambahan
sampai hari ini rasanya KPU belum juga melakukan pemutakhiran data pemilih secara benar..dan data yang diperoleh adalah data dari adminduk yang setahu saya tahun lalu agak kacau perangkatnya, dan akibat sistem desentralisasi, setahu saya dinas kabupaten kota pun tidak sepenuhnya melakukan updating data penduduk. hehe..saya sendiri tidak merasa termasuk yang akan menjadi pemilih. bahkan di beberapa RT RW di dekat jakarta, masih ada yang 50% nya tidak jelas apakah jadi pemilih atau tidak.dan data pemilih yang digunakan masih berbasis pada data existing tahun 2004, yang setahu saya juga berangkat dari data pemilu tahun tahun sebelumnya.
rasanya untuk menerapkan TI untuk Pemilu 2009, seluruh pemerhati dan praktisi IT harus saling membantu mencarikan solusinya mulai dari hulu sampai hilir, tidak sekedar jadi projek sistem teknologi informasi, tetapi ini menyangkut kredibilitas pemanfaatan TI di tanah air.
Terima Kasih
Wassalam
ramdhan akbar
February 21st, 2009 at 11:28 am
Pa Hemat saya mau tanya…
tolong jelaskan secara berurutan mulai dari TPS-TPS sampai data suara itu masuk ke KPU pusat melalui sistem informasi yang memang disediakan untuk pemilu 2009 ini..
saya juga minta dijelaskan teknologi aplikasinya seperti apa…
Terima Kasih atas jawabannya,
karena saya sendiri belum begitu paham mengenai sistem informasi ini…
Hemat Dwi Nuryanto
February 26th, 2009 at 3:46 pm
Insya Allah, tugas kami sebagai Tim Ahli TI KPU secara informal telah berakhir. Meskipun hanya mendapatkan kepercayaan yang tidak terlalu lama, namun berkas-berkas penugasan dan laporan kegiatan tersimpan dg baik di http://www.sipemilu.org. Bila tidak bermanfaat hari ini, semoga membawa kebaikan dan bisa menjadi pelajaran di masa depan. salam hangat. hdn
novan
March 12th, 2009 at 12:55 pm
hmmmmmmmmmmmm
sampe skarang grand design SI KPU blom ada publikasinya….
tapi yang dari saya baca dari artikel2 anda
membuat saya takut
ada faktor2 penting yg tidak anda perhitungkan…
contohnya
kondisi SDM di daerah
dan kondisi geografis indonesia
dan kalau mengatakan IT KPU 2004 itu boros????
bagaimana IT KPU 2009 ini bisa mengoptimalisasikan “sisa-sisa” IT KPU 2004 ???
apa dimubazirkan saja ???
( 2004 kan emg bener2 mulai dari 0, skrg ????? )
Hemat Dwi Nuryanto
March 12th, 2009 at 5:01 pm
mas novan, untuk gdsi … lihat dokumentasinya di http://www.sipemilu.org. inovasi input data yg tepat (omr bukan icr) adalah untuk mengatasi kendala sdm (kemampuan, kecepatan, keakuratan kerja dan jumlah) dan menghalangi peluang manipulasi data oleh sdm (operator). 7000 pc tahun 2004 sudah tidak tercium “aroma”nya termasuk jaringan “vpn dial” di setiap kecamatan. it 2009 relatif mulai dari hampir “nol” juga, terdapat sisa2 perangkat server yg berumur lebih dari 5 tahun dan sedang di “upgrade” … tapi … biaya upgrade-nya lebih mahal dibanding beli baru …
novan
March 16th, 2009 at 3:22 pm
di it kpu 2004,
data pertama masuk 2 jam setelah TPS ditutup, (bisa dikatakan di detik pertama system dibuka….)
sekitar tepat jm 2 siang data pertama masuk ( justru dari daerah pelosok indonesia timur )
data sudah mencapai 90% di hari ke tiga
data terkumpul di sistem sekitar 98% ( atau 99.8 % ya???)
2 % karena sudah keduluan ama versi resmi manualnya
kira2 2009 ini bisa lebih cepat dan lebih baik ga ???
./penongkrong tnp tahun 2004
dulu bantuin nyariin data untuk studi statistik data tnp
suryono
March 17th, 2009 at 7:14 am
saya bisa bayangkan kalau entry data pileg 2009 sama dengan entry data 2004. dengan ukuran kertas, banyaknya partai dan nama caleg.
pengalama sebagai koordinator dan entry data kab madiun thn 2004 yang sangant melelahkan., maka saya pribadi sangat gembira mendengan sistem entry data tidak manual lagi. tinggal scan.
yang jadi masalah nanti dalam scen kalau gak salah seperti scen lembar ujian nasional ya..
sehingga nanti KPPS harus di beritau cara membultkan bulatan yang benar sehingga mudah dibaca scen.
jangan gara2 kurang gelam data jadi tidak dibaca sehingga nanti terjadi perbedaan jumlah rekapitulasi.
bagaimana perekrutan SDM?… jauh jauh hari mohon dilakukan perekrutan. paling tidak koordinator propinsi dan kabkota. mengingat waktu semakin dekat.
wassalam suryono madiun 08123421125
angga
March 19th, 2009 at 11:44 am
wah, bagus bener tulisannya…
Sangat membantu saya niy, soalnya dapet tugas bikin SI Pemilu juga, hehehe…
Makasih yaa..
Dedy Syafwan
March 21st, 2009 at 7:18 pm
kalau yang 2009 ini..IT KPU anggap angin aje lah..ndak berguna sama sekali.masak ngentry dan scannya di kabupaten kota..gile..payah…siapa sih yang ngurusin di Media Center IT KPU 2009?
P. Bayu
March 31st, 2009 at 2:36 am
semoga Pak Fahmi tetap semangat dan lebih banyak bekerja dari pada membahas kisruh IT KPU.
Lebih baik segala energy dan potensi dimaksimalkan untuk pelaksanaan IT KPU 2009 ketimbang membahas opini. kalo memang tidak ada main mata, knapa mesti repot.
Bapak adalah Tim IT, bukan juru bicara yang banyak bicara ketimbang berbuat.
Hemat Dwi Nuryanto
March 31st, 2009 at 10:27 am
Insya Allah … selain banyak bicara (menulis) kami juga banyak berbuat. sebagai profesional dibidang saya … saya banyak bicara (menulis) dan berbuat dibidang saya … selaku warga negara kami berhak untuk berbicara (menulis) dan berbuat untuk mencegah / melaporkan kkn, kepada publik dan pihak yg seharusnya menangani. bgmn dg anda ? hdn
P. Bayu
April 4th, 2009 at 12:00 am
Pak hdn yang Bijak,
Menurut saya, ada pekerjaan yg sifatnya profesional (cari uang, karier dan popularitas), dan itu mungkin sudah sering dan biasa dalam bidang yang Bapak lakoni.
Namun, ada juga pekerjaan yang sifat/peruntukkannya lebih pada Nasionalis (berbuat untuk Bangsa dan Negara).
Bila Memang Bapak sudah banyak bicara (menulis) dan berbuat di bidang Bapak, maka sebagai WNI yg memiliki kapasitas, dan integritas, kiranya dapat melakukan effort maksinal untuk Bangsa dan Negara ini.
Dan jikalau Bapak punya hak untuk berbicara (menulis) dan berbuat untuk mencegah/melaporkan kkn, KKN apa yg Bapak maksud kan…??. saya kira pihak yg berwenang akan segera merespon, apalagi dilaporkan oleh seorang Profesional dan Tim IT KPU yang diangkat melalui SK KPU.
Saya kira kepakaran Bapak bisa membantu negeri ini untuk lebih baik.
Saya…., saya hanya setitik kecil di Negeri Indonesia ini yang kebetulan membaca tulisan-tulisan di e-gov. (kalo dibaca dari tata cara tulisannya aja berantakan).
Hemat Dwi Nuryanto
April 7th, 2009 at 11:00 am
mas bayu … saya juga bukan siapa2. pengetahuan dan perbuatan yg saya lakukan juga belum apa2. rasanya ingin berbuat lebih banyak lagi bagi … agama, bangsa, dan kemanusiaan … namun entahlah bgmn nanti muaranya. dg segenap keberaniaan dan kemampuan yg pas2an … kami mencoba belajar menjadi pemberani … dan itu masih belajar saja … tentunya belum membawa dampak apa2 … namun minimal kami menjadi sedikit mengetahui siapa kira2 kawan2 sepemahaman dg saya …
P. Bayu
April 10th, 2009 at 6:16 pm
Insya Allah.
Satitnedi
April 13th, 2009 at 3:26 pm
Saya lihat performa IT KPU 2009 ini jauh lebih buruk dibandingkan IT KPU 2004, padahal anggaran yang digunakan jauh lebih besar (CMIIW). Bagaimana ini Pak Hemat?
nb: Tampilan website pusat tabulasi pemilu juga sangat mengesalkan karena memaksa saya menunggu sangat lama untuk melihat hasil partai yang bernomor urut besar. Kalau Pak Hemat punya akses kesini mohon diperbaiki.
Hemat Dwi Nuryanto
April 15th, 2009 at 9:27 am
anggaran it pemilu 2004 mencapai Rp 321 Milyar sedangkan anggaran it pemilu 2009 sekitar Rp 75 Milyar dan kami perkirakan dibelanjakan kurang dari Rp 50 Milyar.
menurut pendapat kami terdapat dua penyebab utama buruknya performa it pemilu 2009 adalah pilihan teknologi icr (yg beranggagaran lebih dari Rp 30 Milyar) dan upgrade server pemilu 2004 (yg beranggaran Rp 2,3 Milyar). penyebab lainnya seperti kertas C1-IT yg terlalu tipis, operator yg kelelahan & kurang terampil, tabulasi dinamik, semi statik maupun full statik merupakan turunan dari dua penyebab utama tsb.
dan keputusan terkait penggunaan icr maupun upgrade server 2004 dilakukan pada saat tidak ada (vakum) tenaga ahli. kami sudah tidak bekerja mulai akhir januari 2009 dan tim bppt baru bekerja 12 maret 2009.
upaya perbaikan telah dilakukan yi dengan meminjam beberapa server bppt dan penggunaan halaman statik dan x engine untuk mempercepat tampilan tabulasi. itu sedikit menolong dari sisi tampilan … namun tidak cukup menolong dari sisi feeder data yg bersumber dari icr. hdn
Andre
April 21st, 2009 at 10:12 am
Pak Hemat, dalam tulisan anda di atas, you wrote ‘Mestinya, bangsa Indonesia tidak mengulang pengalaman pahit terhadap sistem informasi Pemilu 2004. Di mana tabulasi data yang disajikan, ternyata kecepatan, kelengkapan dan akurasinya kurang memenuhi tuntutan atau aspirasi rakyat.’ Dalam kenyataannya IT KPU 2009 yg anda desain dengan metode data entry menggunakan ICR yg anda bangga-banggakan (refer pada alinea tulisan anda sendiri - Dalam Pemilu 2009, input data suara secara elektronik direncanakan menggunakan prinsip Integrated Input Technology (IIT), yang terdiri dari Intelligent Character Recognition (ICR), Optical Mark Reader (OMR), data entry melalui aplikasi, dan data entry dengan digital form (e-Form). Dengan prinsip itu, data/file (misal hasil scaning form C1) dan database hasil konversi serta tabulasinya dapat disimpan lebih baik dan menjadi arsip KPU provinsi/kabupaten/kota yang dapat ditampilkan kembali dengan mudah dan cepat apabila diperlukan…) hanya mampu menghimpun 13 juta suara dari 170 juta potensi suara (less than 10%). Sementara IT 2004 sampai penutupannya mampu meraih 90 % suara.
What say you then?..:P
Banyak masukan yg saya terima bahwa Anda berperan banyak dalam menentukan desain IT KPU 2009 ini. BPPT sendiri mengakui bahwa pada saat masuk sudah terskenario pemakaian ICR, pemasukan data di level Kabupaten/Kota.
Semoga anda dapat mempertanggungjawabkan kegagalan IT KPU 2009 ini.
Lestai
May 17th, 2010 at 2:28 pm
Yhanks for your great website! ^^
Lesbian Hentai