Sudah bisa diprediksi, bahwa proses rekapitulasi penghitungan hasil perolehan suara Pemilu 2009 untuk setiap calon anggota legislatif akan berlangsung alot dan rawan manipulasi. Banyaknya jumlah saksi yang ikut menandatangani formulir rekapitulasi di tingkat TPS bisa menyebabkan situasi yang bertele-tele. Situasinya kian parah jika setiap caleg sesama parpol maupun antar parpol bergesekan karena berebut menempatkan saksi lalu saling klaim hak suara. Kalau sudah begitu, sengketa hasil Pemilu bisa merebak dimana-mana.
Mestinya berbagai risiko tersebut segera diantisipasi dan dicarikan solusinya secara sistemik. Ironisnya, KPU (Komisi Pemilihan Umum) justru membuat mekanisme kontrol yang terbilang lemah terhadap formulir rekapitulasi di tingkat TPS atau biasa disebut formulir C1. Rencananya mekanisme kontrol berbasis teknologi informasi dengan cara memindai formulir C1 (dokumen scanning) yang telah ditanda-tangani secara lengkap di KPPS. Kemudian oleh PPK akan dikirim ke sistem penghitungan elektronik KPU. Sayangnya, sistem tersebut belum teruji secara baik dan belum juga diaudit oleh pihak yang berkompeten. Pihak KPU kurang menyadari atau bisa jadi mengabaikan begitu saja potensi bahaya yang sedang mengintai. Apalagi, berbagai kelemahan mendasar masih menempel pada teknologi pemindai jenis ICR (Intelligent/Handwriting Character Recognition) dan hingga saat ini belum mampu diatasi secara tuntas. Publik bertanya-tanya, ada apa dengan KPU yang terlalu memaksakan diri dan menihilkan risiko kegagalan dari ICR. Bagaimana jadinya jika alat kontrol tersebut justru bermasalah dan mengandung kelemahan yang cukup mendasar ?
Belum matangnya sistem input data suara Pemilu dengan mesin pemindai berbasis ICR bisa jadi justru akan memperkeruh situasi. Apalagi, Panitia Pemungutan Suara juga akan mengumumkan hasil rekapitulasi kepada publik lewat tabulasi data secara online yang bisa diakses lewat internet. Tabulasi data tersebut sekaligus merupakan hitung cepat hasil Pemilu. Dengan adanya tabulasi data hasil Pemilu legislatif untuk DPR-RI, DPRD Provinsi, hingga DPRD Kabupaten/Kota maka setiap caleg bisa melakukan monitor sekaligus melakukan cek and recek perolehan suaranya di setiap TPS di daerah pemilihannya. Namun, jangan sampai hitung cepat yang dijanjikan KPU justru molor terlalu lama akibat kinerja yang buruk dari sistem penginput data. Pengalaman buruk sistem informasi Pemilu 2004 yang terbukti gagal dalam menyajikan hitung cepat dan tabulasi data mestinya jangan sampai terulang kembali. Mesin pemindai jenis ICR untuk menginput data Pemilu legislatif yang menelan dana sekitar RP 30 miliar itu ternyata masih sarat dengan masalah. Selain masalah sistem integrasi, ternyata kecerdasan buatan mesin pemindai ICR juga belum bisa mengatasi sepenuhnya masalah keanekaragaman bentuk tulisan tangan yang dibubuhkan pada formulir C1-IT. Bisa jadi mesin pemindai kesulitan membedakan bentuk antara angka satu dengan tujuh yang ditulis oleh banyak petugas. Juga antara angka dua dengan tiga, dan antara angka empat dengan sembilan. Jika mesin pemindai mengalami keraguan dalam menghitung, maka diberlakukan prosedur verifikasi dan validasi. Apalagi ada ketentuan
Sekedar catatan, bahwa bagian kunci dari dokumen scanning adalah Optical Character Recognition (OCR) yang meliputi Handwriting dan Printed Chraracter Recognition. Dalam hal itu objek teks dalam dokumen akan dikonversi dari bit-mapped image ke dalam representasi teks seperti ASCII. Scanner memisahkan dokumen ke dalam elemen gambar yang disebut pixels. Kumpulan pixel dari karakter alphanumeric dibaca oleh software OCR, dan diterjemahkan ke dalam karakter ASCII dengan tepat (atau ke dalam kode lainnya yang dapat dibaca oleh mesin).
Selain itu ada kendala serius yang menyangkut waktu validasi untuk penerapan teknologi ICR dalam Pemilu 2009. Karena form C1 dari setiap TPS hanya membutuhkan waktu scanning 30 detik sedangkan validasinya bisa 30 menit atau lebih (bottleneck dari penerapan teknologi ICR adalah pada saat validasi data). Dengan demikian untuk sekitar 1100 TPS per Kabupaten/Kota diperlukan waktu validasi sekitar 550 jam. Kondisi tersebut sangat mengganggu peran sistem informasi KPU sebagai sarana hitung cepat dan pembanding/kontrol hitungan manual. Persoalan validasi ICR juga menyangkut training bagi petugas lapangan, tenaga pendamping, dan pemantau/pengawas independen dalam proses validasi. Bisa dikatakan keputusan pleno KPU yang terkait dengan penginput data suara secara elektronik dengan menggunakan ICR kurang tepat karena menimbulkan persoalan teknis yang cukup mendasar. Lazimnya, ICR digunakan untuk mengambil data responden berupa nama, alamat,
Teknologi informasi Pemilu yang menggunakan algoritma tabulasi skala besar dan mengintegrasikan teknologi OMR (Optical Mark Reader) sebagai pemindai sebenarnya cukup relevan dengan perkembangan election terkini di negara maju. Contoh yang aktual untuk dijadikan pembanding adalah peristiwa London Elect pada 2008. Peristiwa itu memilih Walikota dan 25 orang anggota London Assembly. London Elect melibatkan 14 partai dengan jumlah calon kurang dari 100 di setiap tempat pemungutan suara (Polls), dengan 6 juta pemilih (voters) dan mengolah 7 juta surat suara (Papper Ballots).
fatal attraction
Hemat Dwi Nuryanto,
Chairman Lembaga Pengembangan Teknologi & Demokrasi.
HP.08112208066
(www.sipemilu.org)
Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
jokondokonco
March 2nd, 2009 at 11:00 pm
Ketetapan sudah dibuat, tidak mungkin mundur lagi. mari kita dukung saja semoga semuanya lancar.
Ding Klik
March 2nd, 2009 at 11:11 pm
Tadinya khan “Penulis, Tim Ahli Teknologi Informasi KPU, alumnus UPS Toulouse Prancis.”
Koq sekarang nulisnya gitu dan ganti jadi “Chairman Lembaga Pengembangan Teknologi & Demokrasi.”.
apes nih
March 4th, 2009 at 2:47 pm
ding klik, pak hemat sudah diberhentikan dari tim ahli TI KPU karena disamping sudah habis masa kontraknya desember 2008. KPU mungkin mengkhawatirkan adanya pak hemat di tim it kpu membuat rekomendasi tim IT KPU tidak ilmiah dan independen lagi karena pak hemat kan direktur zamrud technology yang membawa solusi tabulasi it kpu dan OMR untuk data entry (yang ditolak mentah-mentah oleh kpu karena dinilai konyol dan gak masuk akal, karena dinilai pemborosan (penambah 18M untuk kertas) dan kemungkinan human error yang tinggi).
Potensi omset zamrud kalo rekomendasi tim it kpu ini diterima anggota KPU kemungkinan sampai 75 M. dengan keputusan ini potensi ini hilang. wajar dong kalo tulisan pa hemat seperti di atas akan terus berlanjut menghiasi media massa kita:)
ada yang bisa menangkap ini?
Tidak Hemat
March 5th, 2009 at 12:05 pm
Buat Apes Nih, benar informasinya demikian? jangan hanya isu. Sekarang banyak yang menyebarkan isu dan fitnah.
Hemat Dwi Nuryanto
March 5th, 2009 at 1:21 pm
Terimakasih atas masukan2nya … Insya Allah … tidak akan saya hapus … sebagai kenangan hidup … seumur hidup … karena saya bukanlah seorang penakut, pengecut dan tipe orang yang menyembunyikan identitas diri. Kira2 saya mengetahui beberapa jati diri anda2. Bila rekan2 ingin info lebih baik terkait tugas sata di KPU, baca seluruh konsultasi yg kami berikan di alamat : http://www.sipemilu.org. Insya Allah saya bukan pedagang atau pengembang OMR atau ICR. Dalam kompetisi untuk menjadi pemenang, yg terpenting adalah cara dan bukan hasil. Menang dengan cara curang … hmm … rasanya bukan juara sejati. HDN
Rahmat
March 11th, 2009 at 5:39 am
Sabar saja Pak Hemat….. Jangan dulu pesimis dg ICR tuk pemilu 2009…. kita lihat hasilnya…. ini kan kemajuan di dunia IT Indonesia. Semoga ICR Pemilu berjalan dg lancar meskipun banyak ICR yang dijual sekarang, pengamatan sy ada 4 ICR Indonesia yang baru. Nanti kita bisa menilai mana yang lebih bagus dan sedikit validasi serta akurasinya mendekati 99%
Pengamat ICR Indonesia
Hemat Dwi Nuryanto
March 11th, 2009 at 5:12 pm
mas rahmat … akurasi 95% atau 99% … menurut pendapat saya tidak ada bedanya. akurasi tsb masih sekedar pengakuaan dan hitungan probabilitas saja. kunci suksenya … ya … harus dicek satu-satu serta verifikasi / validasi … dan bottleneck-nya ya … disitu. sebuah pilihan teknologi yg tidak tepat. bila saja pilihannya adalah omr … maka pesertanya akan lebih banyak lagi. dengan anggaran yg sama mestinya dapat sipemilu (rumah) … ternyata hanya ICR dan scanner (pintunya saja). rasanya terdapat peluang adanya rencana ‘moral hazard’ bila tidak maka minimal upaya pembodohan dan pencederaan intelektual …
jokondokonco
March 12th, 2009 at 11:54 pm
Wah, TI KPU memang berbahaya, juga ruwet, penuh tanda tanya, dan juga pemborosan uang negara. Persiapan yg telah dilakukan pak hemat gak dipake, malah disingkirkan, ikut prhatin pak. Memang nampaknya ada tangan2 lain di KPU. apalagi setelah membaca pengumuman lelang di KPU, bagaimana kok bisa penawar harga tertinggi yg menang. di Lelang Jasa Integrasi, LAPI DIVUSI (Rp 932.250.000) dikalahkan oleh Pt Jasa Teknologi (Rp 1.083.500.000), selisih harga hampir 15%. padahal setahu sy LAPI DIVUSI, tempatnya orang2 ITB. Kok bisa ya …… tapi ternyata LAPI DIVUSI dimenangkan di lelang Jasa Pemeliharaan meskin penawaran selisih 150 jt (hampir 10%) dg pemenang kedua. Ini memang kebetulan apa memang dibetul2kan. Melihat hasil lelang ini, ya pastaslah pak hemat ‘disingkirkan’ dr KPU. hampir spt tulisan sy diatas : Ketetapan sudah dibuat, tidak mungkin mundur lagi. SAYA TIDAK mendukung, tapi tetap semoga semuanya lancar.
wong jowo
March 13th, 2009 at 12:21 am
bener jg tulisan jokondokonco, wis pak sing legowo, gak usah melu2 ngurusi kpu. tekno wae tim ti kpu.
Heribertus
March 13th, 2009 at 2:37 pm
setelah membaca beberapa komentar sebelumnya, saya sepakat dengan pak Hemat, yang mengagetkan saya justru komentar jokondokonco tentang pemenang tender TI di KPU.. bagaimana menurut pak Hemat ?
Terima kasih.
Hemat Dwi Nuryanto
March 16th, 2009 at 10:29 am
perasaan saya, jokondokonco … adalah salah satu aktor intelektual dan salah satu pedagang “icr” di kpu … tapi perasaan saya tsb bisa salah … hanya jokondokonco yg tahu … dan bagi saya tidak terlalu penting. selanjutnya … mereka yg tidak memiliki identitas jelas tidak akan kami layani berdiskusi … mohon maaf dan mohon pengertiannya. hdn
Riyogarta
March 16th, 2009 at 1:41 pm
Rasanya kita pernah bertemu di KPU ya Pak
Atas dasar pemikiran seperti inilah sejak awal saya mengajukan teknologi yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih murah dan pasti jauh lebih cepat untuk memberikan hasil penghitungan suara —yang waktu itu sempat Bapak dengar penjelasannya. Sayang sekali, ternyata teknologi yang lebih mahal, yang relatif lebih ’sulit’ dan jauh lebih lambat yang dipilih.
Tapi sudahlah, semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari ini semua dan semoga pemilu besok berjalan sesuai seperti yang direncanakan.
Riyogarta
March 16th, 2009 at 4:57 pm
Oh ya … btw … bagaimana dengan saran dan rekomendasi yang disiapkan, disana Bapak malah membuat usulan penyempurnaan menggunakan ICR
Bisa dilihat disini karena dokumen aslinya sudah dihapus
http://209.85.175.132/search?q=cache:WvrHg6INYHIJ:sipemilu.org/ti-kpu/2-laporan/+%22Intelligent+character+recognition%22&cd=32&hl=id&ct=clnk&gl=id
Riyogarta
March 16th, 2009 at 4:59 pm
Mudah-mudahan komentar saya tidak dihapus hehehe.
Peace
Hemat Dwi Nuryanto
March 16th, 2009 at 7:25 pm
mas riyo … mohon maaf … rasanya saya belum pernah bertemu dengan mas riyo … dan saya tidak pernah mengetahui usulan mas riyo itu apa … ? mohon diingatkan … siapa tahu saya lupa. usulan penyempurnaan saya yg kedua adalah pemakaian integrated input technology … bisa omr, icr, manual (aplikasi, e-form) … dll, pengadaan secara terpusat dan tender terbuka, serta tetap membangun sipemilu secara komprehensif … bukan sekedar situng (e-counting) apalagi direduksi menjadi hanya scanner & icr dan tabulasi untuk dpr & dpd saja (110 dapil dari total 2177 dapil). hdn
Riyogarta
March 16th, 2009 at 11:59 pm
Saya bertemu Bapak di ruang pak Edi di KPU … sudah terlalu lama, namun saya ingat betul, kita sama2 menunggu pemilik ruangan datang
Hemat Dwi Nuryanto
March 17th, 2009 at 9:47 am
mas riyo … apakah mas riyo yg dr IFES dan menawarkan solusi quick count berbasis sms ? mohon info solusi apa yg ditawarkan ? bila solusi / usulan tsb bagus dan baik pasti mendapat perhatian … dr siapa saja. hdn
Riyogarta
March 17th, 2009 at 10:57 am
Bagus dan baik itu bisa banyak memiliki sisi, bagus dan baik untuk siapa misalnya
… no prob kok Pak, namanya mengusulkan itu tidak harus selalu diterima dan tidak juga harus menjadi oposisi jika usulannya tidak diterima
Sayang usulan kami pada akhirnya sangat telat untuk dilirik. Insya Allah usulan tersebut akan diimplementasikan di pilpres nanti.
Oke Pak, mudah2an bisa berjumpa dilain waktu. Trims.
Hemat Dwi Nuryanto
March 17th, 2009 at 3:44 pm
bila menyangkut sistem untuk pemilu … bagus & baik … tentunya harus menurut stakeholder-nya, dan mestinya tidak boleh dicampuradukkan dg urusan / kepentingan pribadi. bila mas riyo adalah rekanan IFES yg mengusulkan quick count pakai sms … kami tidak dalam posisi menolaknya … sekedar informasi solusi tersebut pernah ditenerapkan pada pemilu 2004 di kpu jakarta … feasible utk dki jakarta dan menurut penilaiaan teknis tidak feasible untuk diterapkan diseluruh indonesia … krn persoalan coverage jaringan gsm/cdma, kompleksitas pemilu legislatif dan jaminan otentifitas data. hdn
Sulis Jaya
April 10th, 2009 at 10:47 am
Bagi Indonesia tidak penting siapa yang mau jadi anggota DPR RI, ataupun DPRD, Indonesia sangat membutuhkan orang orang yang beriman, cerdas, Nasionalis, mempunyai wawasan kebangsaan yang dewasa, berbudi pekerti luhur yang mampu memikirkan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Indonesia butuh pemikiran dan penanganan yang serius yang menyangkut pembangunan Wilayah Indonesia Timur,
Putra Indonesia tidak boleh berpikiran picik dalam memajukan Indonesia Bagian Timur, keseimbangan sudah mendesak untuk dilaksanakan.
Putra Indonesia harus mampu berpikir bagimana caranya sumberdaya Alam Indonesia ini bisa dikelola sendiri, bukan disewakan, digadaikan ataupun bagi hasil kempong kempongan dalam mengambil atau kita pinjam bahasa petani memanen hasil tambang dan hutan.
Emas, tembaga, minyak, nekel bertebaran di wilayah Indonesia Timur yang pengelolaannya kita tidak pernah tahu, mari kita berpikir kapan kita kelola sendiri tambang tambang itu ?
kalaupun toh sudah terlanjur digadaikan, kapan masa berakhirnya ? disinilah transparansi diperlukan dan dikemukakan.
Generasi berikutnya harus berusaha mengambilnya, dan tidak sekali kali memperpanjang Kontrak Gadai tersebut.
Siapakah yang mampu mencegah perpanjangan Kontrak Gadai, saya hanya berpikir DPR, karena Excecutif tidak akan berjalan kalau tidak ada persetujuan dari Legislatif.
Sebentar lagi kita akan memilih putra terbaik untuk memimpin Negeri ini, kita harus jeli, dan bijaksana dalam menjatuhkan pilihan kita, kita bisa pinjam ungkapan Jawa dalam menjatuhkan pilihan yaitu : Becik Ketitik Olo Ketoro, artinya : Yang baik ada ciri cinya, contoh : berani menjatuhkan hukuman kepada yang salah dan tidak pandang bulu, membantu yang lemah, mengajari yang bodoh, memberikan perlindungan kepada Bangsa dan Negara, bukan basa-basi, bukan hanya omong omong, bukan hanya iming - iming.
Olo Ketoro : Olo artinya jelek, yang menunjukan kejelekannya, keserakahan, berperilaku tidak adil, mencari keuntungan dalam menjalankan kebijakan Kepemerintahan, dan selalu memelihara konspirasi KKN !!!! biadab bukan ?
Putra Indonesia sudah banyak memiliki Ahli Geology atapun Kehutanan, marikita raih kembali Indonesia yang hilang……..
Insya Allah.
GUNAWAN
April 15th, 2009 at 8:57 pm
HALO RAKYAT INDONESIA, apa kbr?… lg harap2 cemas nih. Knp ya ada masalah dgn ICR Pemilu 2009 kali ini?… katanya ada byk validasi ulang, kertas yg ringan beratnya <70 grm, waktu psiapan pemilu yg singkat buat tim BPPT, etc…
….
mOGA PEMILU MENDATANG (2014?) LEBIH BAIK LAGI….