Kompas, Jawa Barat, 26 Februari 2009
Pengeluaran atau belanja pemerintah pada saat ini menjadi faktor yang sangat penting untuk menanggulangi laju perlambatan perekonomian. Celakanya, ada masalah mengenai optimalisasi belanja pemerintah. Yang menyebabkan buruknya penyerapan anggaran dan peruntukannya.
Bahkan, target penggunaan dan kualitas peruntukan anggaran sering dikorbankan. Hal itu tergambar dalam penyerapan APBD yang lambat dan kurang tepat sasaran. Akibatnya, dana APBD tetap saja ngendon di rekening bank daerah dan bunganya malahan dijadikan komponen PAD. Kondisi yang tidak sehat tersebut mestinya bisa dipecahkan dengan solusi teknologi yakni e-Sourcing. Solusi elektronik yang berbasis internet tersebut merupakan kerangka atau bagian dari e-Procurement. Sebenarnya solusi tersebut bukan sekedar katalog elektronik untuk pengadaan barang dan jasa. Namun, bisa dijadikan rujukan standar teknis barang atau jasa publik bagi para user. Dan sebagai source harga pasar untuk OE (Owner Estimate). Yaitu perkiraan yang dikalkulasi lewat keahlian. Yang digunakan sebagai acuan utama dalam menilai kewajaran harga. Solusi tersebut dikembangkan dengan prinsip Supply Chain Management (SCM).
Solusi e-Sourcing yang dalam konteks best practices internasional biasa disebut Strategic Sourcing memiliki pengertian sebagai pendekatan metodologis yang digunakan untuk mengoptimalkan pemilihan sumber pembelian barang dan jasa. Karena kegiatan sourcing begitu banyak dan memerlukan ketelitian, maka pada umumnya memakan waktu cukup lama. Konsultan internasional Aberdeen Group pernah melakukan riset bahwa sourcing cycle dengan cara tradisional atau manual membutuhkan waktu antara 3 sampai 4 bulan. Dengan e-Sourcing yang berbasis teknologi internet, sourcing dapat dilakukan dengan lebih cepat dan lebih murah. Apalagi teknologi internet menyediakan pula berbagai katalog dan penyedia layanan di bidang ini. Misalnya untuk identifikasi atau evaluasi keperluan atau pemasok di benua Amerika dan Eropa, tersedia : OpenRatings, Thomas Register, TPN Register,WorldPreffered dan lain-lain. Untuk marketplaces tersedia : BizBuyer, Chemconnect, e-Steel, National Transportation Exchange, PlasticsNet, PartMiner, Ariba dan lain-lain. Untuk perangkat lunak pelelangan tersedia : CommerceBid, Moai, OpenSite, Ariba dan sebagainya.
Susahnya pemerintah pusat dan daerah dalam membelanjakan anggaran secara optimal dan bebas dari modus penyelewengan menjadi masalah laten yang sangat serius. Perihal optimalisasi belanja anggaran, sebenarnya kita bisa bercermin dari pemerintahan dan korporasi di Amerika Serikat. Bahkan, kebijakan Presiden Barack Obama yang dinilai proteksionis lewat American Recovery and Reinvesment act, telah memfokuskan pembelian produk dalam negeri dan pengenaan berbagai hambatan terhadap barang impor dijalankan dengan membenahi terlebih dahulu sistem e-Sourcing di negara itu. Sekedar catatan, bahwa tiga perusahaan otomotif Amerika Serikat yaitu GM, Ford dan Daimler-Chrysler telah beraliansi dalam pembangunan sistem e-Sourcing tunggal untuk bahan baku dan komponen otomotif yang nilainya mencapai seharga 850 miliar dollar US per tahun. Penggabungan e-Sourcing tiga perusahaan raksasa itu telah melahirkan portal e-Procurement terbesar di dunia. Sekaligus merupakan penciptaan transaksi e-Commerce terbesar dan tercepat di dunia. Dalam situasi krisis sekarang ini, instrumen untuk membenahi tiga raksasa otomotif yang sedang kolaps itu adalah dari sisi e-Sourcing dan perbaikan proses bisnisnya. Solusi tersebut diperkirakan akan mampu memulihkan industri itu dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Penerapan e-Sourcing dalam rangka optimalisasi penyerapan anggaran di negeri ini bisa berlangsung dengan baik jika tidak terkendala oleh faktor interoperabilitas. Faktor itu identik dengan antar perangkat lunak dalam SCM. Dimana SCM adalah sistem yang melibatkan banyak entitas. Perkembangan TIK telah menjadikan entitas-entitas yang terlibat dalam SCM mengaplikasikan berbagai macam sistem perangkat lunak untuk mendapatkan berbagai informasi terkait bisnis yang mereka jalankan. Implikasinya menjadikan sebuah rantai produksi, distribusi, dan konsumsi bukan sekedar aliran barang tetapi juga aliran informasi. Beragamnya perangkat lunak yang digunakan oleh setiap entitas dalam SCM menghasilkan berbagai kendala dalam aktivitas pertukaran informasi. Kendala-kendala tersebut pada gilirannya jsutru menimbulkan biaya yang besar. Untuk mengatasi kendala tersebut, diperlukan sebuah standar yang mengatur interoperabilitas antar lembaga pemerintah dan swasta. Salah satu konsep yang dapat digunakan untuk membangun landasan interoperabilitas pada sistem e-Sourcing, e-Procurement maupun e-Comerce adalah ontologi. Sebagai sebuah kumpulan konsep yang mengandung pengetahuan tertentu, ontologi dapat dimanfaatkan untuk mengatasi perbedaan sintaktik pada level aplikasi dari berbagai aplikasi. Dengan adanya jembatan tersebut, diharapkan komunikasi antar elemen dalam sistem dapat lebih mudah dilakukan dan mampu menekan biaya yang timbul dalam proses pertukaran informasi dalam sistem SCM.
Masalah interoperabilitas menjadi signifikan seiring dengan biaya yang muncul dalam proses pertukaran informasi dalam sebuah sistem SCM. Kajian yang dilakukan oleh National Institute of Standards and Technology (NIST) menyatakan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh kalangan industri otomotif di AS untuk menangani kendala interoperabilitas mencapai 1 miliar dollar US per tahun. Sebanyak 50 persen dari pengeluaran tersebut digunakan untuk aktifitas pertukaran berkas data. Selain diharapkan mampu mengurangi biaya dan waktu yang diperlukan untuk aktivitas pertukaran informasi antar entitas, interoperabilitas antar perangkat lunak juga diharapkan mampu mempermudah proses upgrade ataupun migrasi perangkat lunak yang dilakukan oleh organisasi atau korporasi. Ruang lingkup interoperabilitas dalam sistem aplikasi e-Sourcing harus mampu mempertukarkan informasi teknis dan bisnis dengan tanpa cacat dalam sebuah sistem supply chain. Sistem tersebut harus memiliki content yang akurat dan bebas dari redundancy. Selain itu sistem tersebut haruslah reusable dan extendable. Aspek interoperabilitas antar perangkat lunak tidak sekedar terbatas pada level penanganan perbedaan sintaktik antar aplikasi, namun juga terkait dengan pengungkapan semantik dari data yang dipertukarkan.
Solusi atau aplikasi e-Sourcing juga harus dikenakan audit sistem informasi. Standar yang digunakan dalam mengaudit adalah standar yang diterbitkan oleh ISACA (Information System Audit and Control Association). Biasanya terdiri dari sembilan prosedur yang menunjukan langkah-langkah yang dilakukan auditor dalam penugasan audit yang spesifik. Seperti prosedur untuk melakukan risk assestment, mengetes intrution detection system, menganalisis firewall dan sebagainya. Jika dibandingkan dengan audit keuangan, maka standar dari ISACA itu setara dengan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Yaitu menyangkut tata cara bagaimana audit dilakukan. Sedangkan yang menyangkut kondisi apa yang diaudit, diberikan penilaian berdasarkan standar tersendiri bernama COBIT (Control Objectives for Information and Related Technologies). Yakni kerangka untuk mengelola information technology governance yang merupakan hasil riset panjang dari berbagai institusi terkemuka seperti PriceWaterhouseCoopers, IBM, Gartner, dan sejumlah tokoh-tokoh profesional dari dunia bisnis, pemerintahan, dan pendidikan.
*) HEMAT DWI NURYANTO, CEO Zamrud Technology, Alumnus UPS
Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Leave a reply