Metode pemungutan suara dari cara mencoblos digantikan mencontreng kurang memiliki landasan filosofis yang kokoh. Sehingga cara itu justru akan melahirkan berbagai persoalan teknis di lapangan. Setelah hari pencontrengan nasional akan muncul kendala perhitungan dan identifikasi. Meskipun keputusan metode itu lahir dari perdebatan panjang di DPR, namun hal itu belum mencapai kedalaman makna. Yang mengemuka baru sebatas gengsi semu. Karena di dunia ini hanya tersisa dua negara, yakni
Semua tahapan Pemilu membutuhkan faktor kecepatan. Sedangkan faktor kecepatan hanya bisa diandalkan jika setiap tahapan melibatkan secara optimal teknologi Pemilu. Untuk itulah pentingnya postur penyelenggara Pemilu yang sangat memahami seluk-beluk teknologi Pemilu. Teknologi Pemilu tidak harus dibayangkan sebagai suatu kecanggihan mesin e-Voting yang mampu mengalirkan jutaan aspirasi secepat kilat. Namun, untuk kondisi di negeri ini cukup dengan sistem informasi yang bisa mengelola tahapan Pemilu secara baik. Sudah saatnya pihak DPR membuat Undang Undang Pemilu yang adaptif dengan perkembangan teknologi. Dengan optimalisasi teknologi tahapan pemilu bisa berjalan secara murah, cepat, akurat dan cerdas. Sebagai gambaran, salah satu tahapan yang krusial adalah proses penghitungan suara. Tahapan tersebut membutuhkan teknologi berupa sistem informasi. Sistem tersebut idealnya menggunakan e-Counting dengan fasilitas input data barbasis Optical Recognition Technology (ORT) dan perangkat aplikasi yang andal dan sudah teruji. Sayangnya, dalam tahapan Pemilu 2009 telah terjadi salah pilih teknologi akibat vendor driven. Hal itu terlihat dengan kasuspenetapan penerapan ICR (Intelligent Character Recognition) melalui pleno sebagai fasilitas input data hasil perhitungan suara. Meskipun peran e-Counting dalam Pemilu kali ini baru sebatas media pembanding terhadap metode hitungan manual, namun peran e-Counting harusnya menjadi wahana transformasi untuk Pemilu yang akan datang. Sangat disayangkan jika sistem informasi pemilu 2009 menyedot anggaran yang cukup besar tetapi fungsinya minimalis. Hal itu terlihat dari proses hitung cepat dan tabulasi yang direncanakan hanya melayani penghitungan DPR Pusat tanpa DPRD dan DPD yang mencakup hanya 77 daerah pemilihan dari total seharusnya 2.177 daerah pemilihan. Mestinya, utilitasnya bisa ditingkatkan lagi sehingga mampu melakukan hitung cepat disertai tabulasi untuk seluruh DPRD Provinsi dan Kab/Kota dan DPD. Dengan demikian pesta demokrasi terlihat lebih cerdas dan penuh kepastian. Selain itu bila terjadi sengketa Pemilu ada wahana yang bisa mengurai secara cepat dan valid. Sebuah langkah mundur bila dibanding Pemilu 2004.
Keputusan KPU yang terkait dengan input data suara secara elektronik dengan menggunakan ICR kurang tepat karena menimbulkan persoalan teknis yang cukup mendasar. Kelemahan ICR antara lain tingkat akurasinya masih rendah, sehingga perlu effort verifikasi dan validasi yang cukup besar. Sekedar catatan, data input ICR untuk dapat dianggap benar, selalu harus diperiksa dan divalidasi terlebih dahulu. Cara penggunaan teknologi ICR relatif lebih sulit bila dibandingkan dengan OMR (Optical Mark Reader) sehingga perlu proses adaptasi. Apalagi faktor variasi bentuk tulisan yang sangat beragam, sehingga perlu verifikasi dan validasi dari setiap lembar hasil pemrosesan ICR. Dan yang cukup krusial adalah tingkat otentifitas yang masih rendah, karena mudah dirubah atau dimanipulasi oleh operator scanning. Karena perangkat ICR dirancang dengan ketentuan bahwa data input harus divalidasi terlebih dahulu sebelum dianggap benar. Untuk menjamin validitas data diperlukan tim independen pemantau proses input data di lokasi kejadian di KPUD Kabupaten/Kota.
Menghadapi pilihan teknologi pemilu kali ini, yang mengemuka justru jurus burung Onta dari KPU. Jurus tersebut untuk sementara waktu berhasil menyembunyikan berbagai persoalan krusial. Serta melupakan begitu saja kondisi buruk pengalaman sistem informasi pada Pemilu 2004. Diperlukan daya kritis publik atas berbagai masalah manajemen KPU. Daya kritis itu penting untuk menanggulangi
*) HEMAT DWI NURYANTO, Chairman Lembaga Pengembangan Teknologi & Demokrasi, Alumnus UPS Toulouse Perancis
Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Aldebaran Chandra
April 1st, 2009 at 5:10 pm
Masalah IT KPU kayaknya banyak polemik-nya seperti yg saya ikuti di milis e-gov Indonesia
Sayang, sebagai pegawai BPKP saya tidak bisa melakukan apa2
Saya hanya bisa berharap, kita dapat memilih yg terbaik untuk bangsa
Hemat Dwi Nuryanto
April 3rd, 2009 at 6:03 pm
pak aldebaran, polemik yg berkembang diluar yg kami harapkan. terjadi tidak seperti yg kami maksud dan rencanakan. namun alhamdulillah telah berakhir. mohon maaf bila kami telah menyampaikan persepsi publik terkait bpkp, yang mungkin benar untuk sebagian hal namun tidak untuk hal yg lain. hdn
novan
April 9th, 2009 at 3:08 pm
berpikir
apakah pemilu bisa dibiarkan sebagai “pesta rakyat”??
hal-hal lain sebaiknya sebagai “pelayan” saja untuk mensukseskan hajatan besar RAKYAT ( sekali lagi RAKYAT )
dulu, satu-satunya acara yg bisa menyatukan rakyat hanya pemilu ini,
dulu semua rakyat adalah “PEMILIH”
sekarang???
repotnya cara memilih,
pilihan yg terlalu banyak dan tidak diketahui kualitasnya,
dan di ujung adalah “bergunakah” pemilu ini bagi rakyat
setidaknya sudah membelah rakyat menjadi 2, pemilih dan bukan pemilih ( golput, apapun alasannya )
g ada yg perlu dikedepankan,
ga seharusnya dengan alasan teknologi mengubah budaya bangsa sejauh itu,
klo harus, lakukan secara bijak dan perlahan…
tapi, kedepankan klo ini pesta rakyat
apa pemilu depan bisa hanya dengan sms saja???
tanpa perlu tahu siapa sih tetangga saya……
Syafril KATY'84
April 10th, 2009 at 10:29 pm
Saya kemarin sebagai petugas KPPS merasakan betapa primitifnya pemilu caleg 2009 ini dengan menggunakan kertas suara yg sangat tidak efisien & efektif. Padahal banyak anak bangsa Indonesia yg jago2 di bidang teknologi informasi untuk bisa membuat lebih efektif & efisien.
Bayangkan saja jika lebih dari 3 trilyun rupiah hanya dihabiskan untuk keperluan logistik. Lha mbok invest untuk computerized… bener nggak mas Hemat.
Hemat Dwi Nuryanto
April 15th, 2009 at 10:00 am
benar mas syafril, harusnya cukup menggunakan kertas A4 yg berisi no partai dan no caleg sedangkan info lengkap partai dan nama caleg bisa ditempel di bilik atau papan pengumuman. pasti dari sisi kertas hemat lebih dari Rp 500 Milyar.
bila dipadukan dg it, cukup setara dg london elect (pemilihan walikota london dan london assembly) yg baru berlangsung mei 2008 dan tidak harus dg e-voting seperti di US. pemilu bisa berhemat s/d Rp 9 Trilyun.
sayang sejumlah anak bangsa masih gamang berinovasi dan malu untuk belajar dari kemajuan bangsa lain. hdn
Johan Tambotoh
April 17th, 2009 at 12:12 pm
Hallo pak Hemat,
Jujur saja sy sangat bingung dengan kinerja KPU saat ini. Belum tuntas kekisruhan DPT, kini ditambah lagi dengan kekisruhan ‘Quick Count’ ala KPU yang amburadul.
Pak, apa sebetulnya yang terjadi di KPU kita? Gimana sih kronologis ceritanya kok bisa sampai kayak gini. Maaf pak, saya bertanya karena naluri akademik sy mengatakan bahwa TIDAK MUNGKIN kalau di KPU (Tim Ahli TI) tidak punya IT Plan (mulai dari DPT - ini lain soal - hingga Tabulasi Nasional Pemilu)?
Apa sih yang sebetulnya terjadi pak?
Hemat Dwi Nuryanto
April 20th, 2009 at 10:15 am
pernah bekerja di kpu merupakan sebuah pengalaman traumatis dalam hidup kami. bekerja keras, konsisten, dan mengedepankan kemampuan intelektual seperti sebuah hal yg sia2 dilakukan. memperingatkan kejadian buruk atas sesuatu pengambilan keputusan yg keliru … kami rasakan sebagai tindakan yg bodoh. bagaimanapun pada akhirnya kami mengalami kesedihan yg dalam. karena yg terjadi ternyata lebih buruk dari yg kami sangka. Yang Maha Kuasa ternyata memberi petunjuk lebih baik dan menegur lebih keras dibanding kami. hdn