Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Irwanto
May 26th, 2009 at 3:16 pm
Menanggapi ICR, saat ini sedang lelang di BPS, Biro Pusat Statistik, namun spesifikasi hanya merujuk ke 1 merek saja. Hal ini mengindikasikan mark up, monopoli dan kompetisi tidak sehat, serta sistem lelang saat ini mengawal pemenang lelang utk menghabiskan pagu dengan aman.
Kompetitor mustahil masuk, hanya scanner dan software merk tertentu yg bisa turut berkompetisi, krn spek dikunci.
Bayangkan lelang 34 Milyar hanya untuk 50 unit scanner dan ICR. Meskipun perusahaan kami adalah rekanan cukup lama, tapi lelang ini sungguh keterlaluan, sudah diatur sekali.
Hemat Dwi Nuryanto
May 26th, 2009 at 5:55 pm
mas irwanto, mohon dituliskan kronologis lelang icr dan scanner di BPS seperti apa yg kami lakukan. Insya Allah bagus bagi pembelajaran, bermanfaat bagi penegakan keadilan dan hukum. selamat berjuang dalam ber amar ma’ruf nahi munkar. sungguh mudah diucapkan namun teramat sulit dilaksanakan. semoga mendapatkan pertolongan dari yang maha kuasa. hdn
Irwanto Kumar
May 28th, 2009 at 3:38 am
Sebagai perusahaan penyedia barang jasa IT, mengikuti lelang sana sini adalah hal biasa. Namun tahun ini nihil, benar2 nihil, karena dimana2 proyek2 sudah diatur spt konspirasi di BPS ini (biro pusat statistik). Lelang scanner dan software data capture ICR di BPS, Biro Pusat Statistik, senilai 34 Milyar utk 50 unit. Jika di KPU harga perunit @25 juta (ini pun masih ada kemungkinan markup) maka di BPS @600 juta. Jelas ini indikasi markup, spesifikasi sangat mengunci shg merk yg dirujuk memonopoli, tidak tercipta iklim kompetisi sehat, bahkan ada konspirasi agar pemenang lelang menghabiskan pagu dgn sistem lelang skrg.
KPK dan KPPU harus memeriksa menuntaskan masalah ICR baik di KPU dan BPS. Klo scanner hanya mengarah ke Fujitsu, padahal ada byk merk terkenal spt HP, Canon, Epson, Kodak, mana mungkin dapat harga kompetitif, pasti selangit. Klo lelang spt di BPS ini dgn iklim kompetisi sehat, semua merk masuk, gak ada spek yg di kunci, semua berkompetisi, jadi fair.
Hemat Dwi Nuryanto
May 28th, 2009 at 10:59 am
mas irwanto, sekedar masukan : Barang siapa tetap istiqamah, konsisten dalam kebaikan, Insya Allah pasti selamat. Imam Ali, Bihar al-Anwar 78:91. semoga bermanfaat. hdn
rakyat kecil
June 2nd, 2009 at 6:20 am
ICR ataupun OMR masing2 punya kelemahan….namun tolong jangan saling menjelekan …. sekarang tinggal bagaimana mensukseskan PILPRES ini …… OMR kalah harus bersabar…. ICR menang harus introspeksi diri dan harus tetap ditingkatkan kwalitas dan training SDMnya…..
BPS…. Perlu pakai produk ICR dalam Negeri karena memperingan biaya … Percaya deh………
KUNCI dalam USAHA adalah selalu bersabar… dan selalu intropeksi diri …. semua ada kekurangan dan kelebihan….
Dedy Syafwan
June 14th, 2009 at 9:12 pm
hehe..99.9% lelang di Republik ini adalah lelang korupsi..itu hasil survey sebuah lembaga Monitoring Procurement.moga di BPS segera turun KPK biar mampus sekalian para koruptor itu..cappe deh..
Dedy Syafwan
June 14th, 2009 at 9:16 pm
ini saran saya ya: Pilpres baiknya KPU pakai sistem SMS saja..pake biaya pulsa Rp 300 per SMS..jadi kalau 500 ribu TPS total biayanya hanya 150 Juta rupiah saja..cukup lah biar KPU benar benar aman dan menggantikan dana rakyat yang 50 milyar hilang jadi ‘taik’ para koruptor saat Pemilu legislatif..
Hemat Dwi Nuryanto
June 15th, 2009 at 10:16 am
dari info yg kami dapatkan memang benar bahwa mayoritas kegiatan pengadaan barang dan jasa banyak terjadi moral hazard. kkn tidak hanya terjadi pada pengadaan ict, malah kkn untuk hal2 non it jauh lebih banyak. sebagai contoh pada kasus kpu : apabila desain surat suara dibuat seperti rancangan hasil studi teman2, maka akan dihemat biaya s/d Rp. 750 M. Mungkin saja proses pengadaan surat suara berjalan sesuai prosedur namun rancangannya merepresentasikan sebuah bentuk pemborosan uang negara.
mas dedy, bila ict hanya dijadikan sebagai supporting tools apalagi hanya ‘quick count’ maka pakai sms saja sudah cukup, dan dg 10.000 sampling (5 x sampling lembaga survey) tps hanya perlu ongkos Rp 3 juta. namun bila kita ingin melihat jauh kedepan manfaat ict : sebagai enabler malah bila perlu sebagai transformer maka ict dapat memiliki maksud dan tujuan yg lebih baik dari itu. batasannya adalah nalar dan pemahaman kita para pelaku ict mengenai maksud dan tujuan keberadaan ict itu sendiri. hdn
jemy wohangara
July 31st, 2009 at 8:26 pm
Wasalam..
Dengan ini saya mohon bantuannya untuk pengiriman contoh RAB Logistik Pemilu ke Kabupaten untuk sebagai acuan Pembuatan Rab Pemilu ( Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati ) untuk di usulkan pada anggaran APBD tahun 2010.
trims sebelumnya atas bantuanya.
from
jemy wohangara ( Kabupaten Keerom - Papua )
Hemat Dwi Nuryanto
August 5th, 2009 at 9:38 am
salam kembali pak jemy wohangara. terkait rab logistik pemilu kepala daerah yang kompeten adalah biro perencanaan dan data kpu. untuk beberapa hal, terdapat kemungkinan eDemocracy & Governance Institute dapat membantu. salam hangat. hdn