Kompas, Kamis, 4 Juni 2009 

Mewujudkan guru yang inspiratif bagi siswa merupakan langkah penting dalam dunia pendidikan. Hingga saat ini sosok guru yang inspiratif masih sedikit sehingga lembaga pendidikan di negeri ini masih belum menjadi lumbung kreativitas. Padahal, era Wikinomics sekarang ini memungkinkan daya kreativitas individu maupun kelompok bisa ditingkatkan secara eksponensial.

Sosok guru yang inspiratif membutuhkan perangkat untuk menunjang proses pengajaran serta meningkatan profesionalitas. Di negeri ini masih banyak guru yang gagap TIK (teknologi informasi dan komunikasi). Padahal, kekuatan konvergensi TIK dan kemampuan mesin pencari di internet telah merevolusi tata kelola dan kebudayaan dunia. Serta mentransformasikan proses pendidikan begitu cepatnya.. Mesin pencari juga sangat pemurah karena menyediakan sumber informasi yang tak terbatas sebagai bahan baku untuk berkreasi dan berinovasi. Untuk mengatasi masalah diatas diperlukan terobosan berupa program Sagusala atau Satu Guru Satu Laptop. Program Sagusala bertujuan agar semua guru dari tingkat SD hingga SMA/SMK memiliki sebuah laptop untuk menunjang proses pengajaran, mengembangkan profesionalitas dan menggenjot daya kreativitas. Untuk menjalankan program Sagusala diperlukan subsidi harga dan skema pembiayaan atau kredit yang ringan bagi guru agar segera memiliki seperangkat laptop dengan spesifikasi teknis yang baik. Dengan program Sagusala para guru bisa lebih efektif dalam bekerja. Sehingga bermacam “penyakit” rutinitas yang menimpa guru bisa teratasi. Selama ini penyakit rutinitas dan konformitas birokrasi telah membelenggu para guru sehingga dari tahun ketahun mereka terpaksa “berkubang” dengan masalah yang itu-itu saja. Akibatnya tidak mampu meningkatkan kualitas dirinya sesuai dengan zeitgeist atau semangat jaman. Itulah sebabnya Root Bernstein, penulis buku “Sparks of Genius”, menyatakan pentingnya siapa saja untuk keluar dari cara kerja rutin dan konformitas birokrasi supaya bisa melihat masalah dan tantangan pekerjaan dengan cara yang baru. Sekedar catatan, karena saking jengkelnya dengan “penyakit” rutinitas, maka IDEO yang merupakan konsultan desain terkemuka sekaligus lumbung kreativitas global menekankan kiat khusus berbunyi; “rutinitas adalah musuh utama inovasi”.

Dengan memiliki laptop sendiri para guru bisa mempersiapkan materi ajar lebih baik dan variatif. Serta bisa berkolaborasi dengan forum guru mata pelajaran lewat internet. Kolaborasi para guru itu pada gilirannya akan menyuburkan budaya mengunduh (down load) dan mengunggah (up load) baik untuk konten pendidikan maupun ilmu pengetahuan umum. Program Sagusala juga searah dengan program global World Wide Innovative Teacher Forum. Dimana secara rutin Indonesia mengirimkan wakilnya yang dihasilkan melalui seleksi lewat forum guru mata pelajaran. Salah satu agenda menarik yang berbasis daya kreativitas adalah acara Innovative Teacher Competition. Dunia sekarang ini terfokus kepada usaha untuk meningkatkan lembaga pendidikan yang mampu menggenjot daya kreativitas warga negaranya. Tak bisa dimungkiri, bahwa warga negara kreatif yang bisa melihat segala sesuatu dengan cara berbeda yang luput dari penglihatan orang lain merupakan kunci persaingan global. Negeri manapun di dunia ini sangat membutuhkan warga negara yang memiliki percikan kreativitas yang luar biasa. Secara filosofis kreativitas merupakan proses kejiwaan yang unik, suatu proses yang semata-mata dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang baru yang bernilai tambah, berbeda dan orisinal. Selain itu kreativitas juga mencakup jenis pemikiran spesifik, yang disebut oleh Guilford sebagai divergent thinking atau pemikiran berbeda. Lebih lanjut Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk nilai tambah atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal. Tak bisa dimungkiri lagi dalam dunia pendidikan percikan kreativitas sangat perlu dikembangkan. Pengembangan itu sebaiknya memperhatikan empat aspek konsep kreativitas yang biasa disebut dengan istilah “Four P’s of Creativity: Person, Process, Press, and Product”.

Berdasarkan hasil penelitian, untuk menciptakan kreativitas dibutuhkan lingkungan kerja kondusif yang menyenangkan dan memberi ruang yang cukup bagi individu untuk melakukan berbagai simulasi, permaian atau percobaan. Membentuk lingkungan yang kondusif seperti itu tidak mudah bagi sebuah organisasi. Kreativitas merupakan partai otak kanan yang memiliki sifat berpikir divergen. Otak bagian kanan tidak membatasi pada apa yang dilihat oleh indera penglihatan saja. Dia berpikir dan memutuskan dengan memakai berbagai informasi dan dalam ruang lingkup yang komprehensif. Sebaliknya, partai otak kiri bersifat konvergen. Suatu sifat berpikir yang tertentu dan membatasi fokusnya pada satu pandangan yang nyata dan ruang lingkup terbatas. Kreativitas merupakan produk dari pikiran yang divergen. Kreativitas bukan hanya dalam konsteks seni saja. Namun memiliki arti yang lebih luas dari sekadar seni. Karena kreativitas merupakan karakter otak kanan, maka pengembangannya memerlukan tindakan stimulus atau rangsangan. Dalam situasi krisis seperti sekarang ini diperlukan right brain training untuk lebih mengaktifkan kinerja otak kanan yang pada gilirannya akan menggenjot daya kreatifitas.

Salah satu metode untuk meningkatkan daya kreativitas dan inovasi dalam organisasi adalah dengan cara memasukan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok yang dapat diimplementasikan. Dalam konteks diatas akan terjadi penyelarasan pola fikir kreatif dalam berbagai disiplin ilmu. Semuanya melakukan proses kreatif untuk memberikan nilai tambah. Perlu disadari bahwa dewasa ini kekuatan ekonomi dunia sangat ditentukan oleh value manusia, yakni talenta, imajinasi, dan kreatifitas. Buku terkenal berjudul “The Ten Faces of Innovation” bisa dijadikan referensi agar lembaga pendidikan di negeri ini bisa menjadi lumbung kreativitas. Cara lain untuk meningkatkan daya kreatifitas utamanya bagi lembaga pendidikan adalah dengan merombak budaya belajar dan ruangan sekolah. Banyak pihak yang kurang menyadari bahwa pengaruh tata ruang, khususnya ruang kelas terhadap daya kreativitas cukup besar. Ruangan kelas yang dilengkapi dengan perangkat TIK untuk proses belajar, sang guru dengan laptopnya yang mampu mengakses materi ajar yang bermutu serta perabot kelas yang dirancang secara ergonomik dan ramah lingkungan akan menimbulkan banyak momentum dalam proses kreatif. Biasanya momentum itu sangat istimewa karena datangnya seketika seperti karunia Tuhan yang ditaburkan dari langit. Keunikan atau momentum proses kreativitas diatas juga dialami oleh mahaguru seni atau maestro seni musik Beethoven. Sang maestro mendapatkan proses kreatif yang luar biasa dan mampu menciptakan rangkaian nada yang indah justru ketika dia sedang menaiki kereta kuda dalam suatu perjalanan. Pada era wikinomics sekarang ini kereta kuda Beethoven itu telah tergantikan oleh the search alias mesin pencari di internet. Mesin-mesin pencari itu bagaikan menelan jutaan perpustakaan lalu dengan murahnya menyemburkan informasi ketika kita sedang melakukan proses kreatif.

 

HEMAT DWI NURYANTO, Co-founder & Chairman Crayonpedia.

     

    


Data diri penulis

Nama                           :   Hemat Dwi Nuryanto

Alamat Rumah  :   Jl. Karang Tineung 101 A  / 181,  BANDUNG. 40162

Telp. Rumah                 :   (022) 2060259   HP  08122015476

Rekening Bank :   BANK NIAGA  Nomor Rek :  2240102391123

 

 

 

 

 

Share