Kontan, Sabtu 25 Juli 2009

Postur pertahanan nasional semakin didera oleh berbagai persoalan serius. Dari masalah wilayah perbatasan, pengamanan pulau terpencil, pencurian kekayaan negara, penyelundupan hingga aksi terorisme. Persoalan pertahanan harus ditangani dengan solusi terkini yang mengarah kepada optimalisasi teknologi. Solusi tersebut antara lain pentingnya mewujudkan electronics defense system atau e-Defense. Pengembangan e-Government di bidang e-Defense itu akan menuju integrated digitalized battlefield.

 Adanya e-Defense sangat membantu pihak terkait untuk mengkaji secara komprehensif revolutions in military affairs (RMA) yang menyangkut tidak hanya perkembangan terkini teknologi militer namun juga perkembangan strategi dan doktrin militer global.  Aplikasi E-Defense juga akan mengatasi kompleksitas geostrategis negeri ini yang terdiri dari ribuan pulau dan terdiri dari tiga wilayah ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) yang terbuka bagi pihak internasional. Dengan demikian pemerintah Indonesia dituntut menciptakan sistem pertahanan nasional yang tangguh yang mampu mengcover sekitar 17 ribu pulau dengan luas 7.7 juta kilometer persegi (termasuk wilayah zona ekonomi eksklusif). Upaya untuk mengembangkan sistem pertahanan negara harus memperhatikan faktor geostrategis negara baik ke dalam maupun ke luar. Faktor geostrategis ke dalam mengarahkan pembuatan kebijakan pertahanan untuk menciptakan sistem pertahanan yang tangguh yang didasarkan atas konsep unified approach yang mencakup seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Sedangkan faktor geostrategis ke luar memerlukan kebijakan pertahanan untuk mengembangkan kemampuan penangkal yang tangguh melalui pengembangan teknologi pengintaian dan sistem peringatan dini. 

Dengan e-Defense bisa dilakukan evaluasi secara cepat dan akurat terhadap postur pertahanan nasional, akusisi persenjataan yang diperlukan, serta besarnya anggaran yang dibutuhkan. Selama ini evaluasi diatas sulit dilakukan karena harus mengkombinasikan alokasi sumber daya nasional yang diperlukan untuk mempertahankan postur pertahanan yang eksis pada saat ini (arms maintenance) dan kebutuhan untuk memulai proses modernisasi (arms build-up). Program arms maintanence sangat mendesak untuk dilakukan untuk mencegah semakin lebarnya kesenjangan kapabilitas militer negeri ini dengan negara tetangga.  E-Defense sangat menunjang strategi pertahanan yang kini mengarah kepada transformasi sistem persenjataan kearah gabungan antara interkoneksi. Dengan kata lain kekuatan militer sekarang ini banyak tergantung pada TIK ( Teknologi Informasi dan Komunikasi ) atau networking yang mampu meningkatkan kewaspadaan di segala medan.

Sistem pertahanan negara kita adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan  sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman. Sistem tersebut bisa berjalan secara ideal dengan menerapkan e-Defense yang berbasis  GIS ( Geographical Information System ). GIS sangat membantu melakukan analisis dalam operasional, perawatan dan pengadaan alutsista. Selain itu untuk lebih menjamin tingkat akurasi dan pemahaman yang optimal bagi personel dalam membaca data peta. Serta pentingnya standarisasi simbologi dalam penggambaran kegiatan pertahanan. Pada saat ini GIS untuk pertahanan sudah tersedia secara mudah, bahkan ESRI telah mengeluarkan salah satu solusi dalam bidang pertahanan yaitu ArcGIS Military Tool. Aplikasi tersebut merupakan ekstensi ArcGIS yang berguna untuk melakukan viewing dan analisis data militer.  Beberapa fungsi yang ada pada tool tersebut antara lain tool peta raster dan tool peta vektor dengan standar GeoSym (Department of Defense Symbology). Dengan tool diatas data dapat secara otomatis diseleksi dan ditampilkan. dalam framework GeoSym untuk standarisasi.

Tak bisa dimungkiri lagi bahwa internet protocol (IP) memegang peranan penting dalam jaringan sistem informasi karena bisa menghubungkan komunikasi dari darat, laut, udara, bahkan dari luar angkasa. IP juga memiliki kemampuan untuk membuat bermacam-macam sistem komunikasi. Komunikasi antar matra pertahanan bisa dijembatani. Selain itu IP juga bisa diintegrasikan dengan sistem GPS untuk memberikan informasi posisi yang akurat dan realtime mengenai keadaan di lapangan. Fakta sejarah menunjukkan bahwa internet pada awalnya merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada 1969, melalui proyek ARPANET (Advanced Research Project Agency Network). TIK antar matra pertahanan suatu negara semakin penting sejak pemerintah Amerika Serikat merumuskan doktrin bela diri preemtif (preemptive self defense) atau biasa disebut beladiri antisipatorik (anticipatory self defense). Dalam konteks tersebut organisasi pertahanan suatu negara harus memiliki backbone yang kuat agar bisa melakukan komunikasi di daerah terpencil. Sayangnya sistem pertahanan di negeri ini memiliki kendala menyangkut interoperabilitas dengan network yang cukup tua.

Signifikansi pengembangan e-Defense selain menyangkut aktivitas operasional di markas dan alutsista juga menyangkut kelompok personel terkecil dilapangan. Seperti dalam hal penjagaan terhadap garis perbatasan dan pulau-pulau terluar  yang membutuhkan personel infanteri yang tangguh dan modern. Beberapa konsep pasukan infanteri masa depan tidak terlepas dari dunia TIK. Personel pasukan infanteri masa depan harus dilengkapi alat navigasi dan komunikasi digital, perangkat komunikasi taktis untuk suara dan data serta persenjataan baru yang termonitor secara baik dengan sistem GIS. Pasukan infanteri masa depan merupakan integrated fighting system individual.  Perangkat yang melekat pada personel infanteri digaris depan itu berupa persenjataan, helmet, komputer, digital and voice communications, sistem penanda posisi dan navigasi, pakaian pelindung serta perlengkapan personel.  Kelengkapan lain berupa GPS dan pedometer dead recording system yang dapat mengikuti gerak prajurit dilapangan. Dengan perangkat yang demikian maka wilayah perbatasan dan pulau terluar bisa diamankan dengan baik.

*) Chairman Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Perancis

Share