Kompas, Kamis, 30 Juli 2009

           Kota Bandung dan sekitarnya masih menyimpan kebanggaan sebagai kluster industri elektronika nasional subsektor industri perangkat telekomunikasi dan subsektor industri komponen. Namun, kebanggaan itu semakin tipis karena perkembangan kluster tersebut kurang kondusif dan tidak “align” dengan apa yang berkembang di dunia. Wajah kluster industri perangkat telekomunikasi bagi Bandung diwarnai dengan adanya PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) dan industri swasta sejenis. Kini, kondisi perusahaan diatas sarat dengan masalah dan terancam gulung tikar. Pentingnya meneguhkan kembali struktur industri dengan cara mendorong terjadinya aliansi strategis dengan industri terkemuka dunia. Dalam hal ini pemerintah daerah memiliki peran strategis untuk ikut serta meneguhkan struktur industri diatas bersama dengan kementerian BUMN dan Deperindag. Agar predikat Bandung sebagai kota industri telekomunikasi yang melekat sejak awal kemerdekaan tidak sirna ditelan jaman.

Selain itu provinsi Jabar harus mencegah terjadi brain drain terhadap SDM teknologi yang selama ini berkecimpung dalam kluster industri elektronika. PT INTI yang merupakan BUMN yang berdomisili di kota Bandung pernah menjadi kebanggaan bangsa di era 90-an. Kini, kondisinya tengah terpuruk. Langkah pemerintah untuk menyelamatkan belum esensial, karena baru sebatas melakukan pergantian direksi. PT INTI didirikan pada 1974 dengan kepemilikan seratus persen pemerintah. Pada mulanya industri ini memiliki fasilitas produksi seperti jaringan telekomuniaksi tetap dan selular, transmisi, laboratorium software komunikasi data, serta pabrik konstruksi dan mekanik.

Hati rakyat menjadi pedih melihat PT  INTI  yang terpaksa menutup  kegiatan  fabrikasinya  dan  mencoba mereposisi  usahanya  dari  services  and  manufactuirng  company menjadi sekedar services company. Tak pelak lagi, langkah penutupan fabrikasi itu menyebabkan positioning PT INTI dalam aspek rantai suplai industri perangkat telekomunikasi menjadi terdegradasi. Kondisinya semakin tidak menggembirakan karena strategi penyelamatan oleh pemerintah masih belum tuntas. Hal itu terlihat dari gagalnya kebijakan restrukturisasi hingga rencana akuisisi oleh PT Telkom. Mestinya, pemerintah memiliki komitmen yang tinggi untuk mengatasi deindustrialisasi PT INTI. Komitmen itu dalam konteks model nasional pengembangan kemampuan industri dalam negeri. Dengan cara melibatkan secara total industri jasa telekomunikasi, ETRI (Electronic & Telecommunication Research Institute), industri manufaktur, dan pihak perguruan tinggi.

Dominasi vendor asing dalam industri telekomunikasi nasional saat ini sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi. Strategi pembangunan yang hanya meningkatkan teledensitas atau jumlah satuan sambungan telepon lewat pengembangan industri jasa telematika kurang tepat. Kondisinya akan pincang jika tidak disertai dengan pengembangan industri perangkat atau komponen telekomunikasi nasional beserta produk turunannya. Mestinya potensi dan kemampuan PT INTI sebagai industri perangkat telekomunikasi bersama jaringan telekomunikasi serta operator telekomunikasi dan aplikasi tidak semata-mata dilihat dari kacamata entitas ekonomi belaka. Ada aspek strategis lainnya yang belum dioptimalkan, yakni bisa dimanfaatkan untuk mempercepat cita-cita menuju negeri harapan, berupa kokohnya Wawasan Nusantara dan Sistem Pertahanan Negara. Mestinya, kompetensi dan produk PT INTI mampu menjadi solusi terhadap sistem telekomunikasi di sepanjang perbatasan negara, pulau terluar, daerah tertinggal dan peralatan telekomunikasi dari TNI dan Kepolisian.

 

Kelemahan penelitian dan pengembangan

            Jangan lupa, PT INTI pernah  memiliki  kemampuan atau kompetensi sebagai andalan industri  manufaktur  telekomunikasi  dalam  negeri.  Hal itu sejalan  dengan  pertumbuhan  ekonomi nasional yang cukup  tinggi  pada  era  80-an  hingga  90-an.  Pada era itu  pengembangan  industri manufaktur  telekomunikasi dalam negeri cukup berhasil. Akibat  krisis  ekonomi,  kemampuan  tersebut  menurun  cukup drastis.  Namun,  aset  perusahaan dalam  bentuk  kompetensi serta tacit and knowledge management yang menempel dalam postur SDM masih  terpelihara  dan  tersedia dalam  jumlah yang cukup memadai dan siap untuk dipacu. Jika  upaya  restrukturisasi PT INTI berhasil dilakukan, akan  dapat  segera  bertumbuh  lagi  dimasa  yang  akan  datang. 

Ada beberapa kelemahan mendasar yang menjadi penyebab dterpuruknya PT INTI. Antara lain kelemahan dalam bidang penelitian dan pengembangan (R & D). Kelemahan ini juga menyangkut tindak lanjut dari produk unggulannya. Kelemahan yang lain adalah PT INTI tidak berdaya menghadapi pesaing  dari  negara-negara  manufaktur  yang  mengandalkan  biaya  produksi  rendah (lower-cost manufacturer countries). Baik di pasar ekspor maupun domestik. Kelemahan itu semakin dalam karena masih lemahnya upaya  bersama  (consolidated  effort) atau sinergi antar BUMN. Kelemahan diatas menjadi paradoks, karena pasar telematika dalam negeri masih akan tetap bertumbuh sejalan dengan terjadinya perbaikan perekonomian nasional dan masih rendahnya teledensitas ataupun akses informasi. Sebagai gambaran makro, bahwa potensi belanja di sektor komunikasi bangsa Indonesia sekitar Rp 500 triliun. Belanja investasi industri telekomunikasi sekitar Rp 60 s/d Rp 80 triliun per-tahun. Pertumbuhan industri telekomunikasi yang masih cukup tinggi (40 % pada 2008 dan 20 %  pada 2009). Sementara itu PT INTI baru mampu melakukan penjualan Rp 680 miliar per-tahun, atau hanya mendapatkan sekitar 1 % belanja investasi industri telekomunikasi. Ironisnya lagi, keberadaan Keppres 18/2000 tentang pengadaan barang  dan  jasa  untuk  proyek-proyek  pemerintah belum dijadikan senjata untuk mendongkrak captive market yang akan membantu kelangsungan perusahaan. Peluang yang tidak boleh disepelekan adalah outsourcing untuk PT INTI khususnya pada sektor generic manufactur jika perusahaan multinasional melakukan relokasi industri.

 

Liberalisasi impor

Kini, eksistensi PT INTI terancam dari berbagai punjuru. Kondisi deindustrialisiasi PT INTI bisa semakin parah karena liberalisasi impor semakin cepat. Selain itu juga karena pelaksanaan Mutual Recognition Arrangement (MRA) atau  perjanjian antar negara yang memungkinkan produk impor masuk dengan hambatan yang minimal. Sehingga semakin kuatnya pesaing dari manufaktur berbiaya rendah, yang membanjiri pasar dalam negeri. Dari aspek rivalitas, persaingan PT INTI dengan MNCs sangat tinggi dan umumnya posisi industri dalam negeri relatif lemah.

Pemerintah pusat dan daerah harus memiliki tekad dan kesadaran bahwa industri perangkat  telekomunikasi nasional adalah entitas yang  tidak hanya berperan sebagai agen atau distributor dari MNCs, tetapi juga harus memiliki kemampuan rekayasa (engineering). Oleh sebab itu pemerintah harus menekankan visi PT INTI yang bisa mejadi lokomotif industri telekomunikasi andalan dan menjadi pelopor bagi industri kecil dan menengah menuju bisnis bertaraf Internasional. Para pengelola PT INTI harus memiliki strategi jangka pendek yakni optimalisasi  terhadap  portofolio perusahaan. Optimalisasi diatas tidak harus  dengan cara menutup kegiatan produksi atau fabrikasi. Tetapi tetap fokus kepada kegiatan jasa rekayasa dan atau pengembangan produk-produk untuk meraih ceruk pasar yang diabaikan oleh MNCs. Sedangkan strategi jangka menengah dan panjang adalah mempersiapkan diri menjadi industri komponen atau semikonduktor dan  industri perangkat, baik  devices,  network  maupun  aplikasinya. 

 

*) HEMAT DWI NURYANTO, Chairman Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Perancis

Share