Kota Bandung dan sekitarnya masih menyimpan kebanggaan sebagai kluster industri elektronika nasional subsektor industri perangkat telekomunikasi dan subsektor industri komponen. Namun, kebanggaan itu semakin tipis karena perkembangan kluster tersebut kurang kondusif dan tidak “align” dengan apa yang berkembang di dunia. Wajah kluster industri perangkat telekomunikasi bagi Bandung diwarnai dengan adanya PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) dan industri swasta sejenis. Kini, kondisi perusahaan diatas sarat dengan masalah dan terancam gulung tikar. Pentingnya meneguhkan kembali struktur industri dengan cara mendorong terjadinya aliansi strategis dengan industri terkemuka dunia. Dalam hal ini pemerintah daerah memiliki peran strategis untuk ikut serta meneguhkan struktur industri diatas bersama dengan kementerian BUMN dan Deperindag. Agar predikat Bandung sebagai kota industri telekomunikasi yang melekat sejak awal kemerdekaan tidak sirna ditelan jaman.
Selain itu provinsi Jabar harus mencegah terjadi brain drain terhadap SDM teknologi yang selama ini berkecimpung dalam kluster industri elektronika. PT INTI yang merupakan BUMN yang berdomisili di kota Bandung pernah menjadi kebanggaan bangsa di era 90-an. Kini, kondisinya tengah terpuruk. Langkah pemerintah untuk menyelamatkan belum esensial, karena baru sebatas melakukan pergantian direksi. PT INTI didirikan pada 1974 dengan kepemilikan seratus persen pemerintah. Pada mulanya industri ini memiliki fasilitas produksi seperti jaringan telekomuniaksi tetap dan selular, transmisi, laboratorium software komunikasi data, serta pabrik konstruksi dan mekanik.
Hati rakyat menjadi pedih melihat PT INTI yang terpaksa menutup kegiatan fabrikasinya dan mencoba mereposisi usahanya dari services and manufactuirng company menjadi sekedar services company. Tak pelak lagi, langkah penutupan fabrikasi itu menyebabkan positioning PT INTI dalam aspek rantai suplai industri perangkat telekomunikasi menjadi terdegradasi. Kondisinya semakin tidak menggembirakan karena strategi penyelamatan oleh pemerintah masih belum tuntas. Hal itu terlihat dari gagalnya kebijakan restrukturisasi hingga rencana akuisisi oleh PT Telkom. Mestinya, pemerintah memiliki komitmen yang tinggi untuk mengatasi deindustrialisasi PT INTI. Komitmen itu dalam konteks model nasional pengembangan kemampuan industri dalam negeri. Dengan cara melibatkan secara total industri jasa telekomunikasi, ETRI (Electronic & Telecommunication Research Institute), industri manufaktur, dan pihak perguruan tinggi.
Dominasi vendor asing dalam industri telekomunikasi nasional saat ini sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi. Strategi pembangunan yang hanya meningkatkan teledensitas atau jumlah satuan sambungan telepon lewat pengembangan industri jasa telematika kurang tepat. Kondisinya akan pincang jika tidak disertai dengan pengembangan industri perangkat atau komponen telekomunikasi nasional beserta produk turunannya. Mestinya potensi dan kemampuan PT INTI sebagai industri perangkat telekomunikasi bersama jaringan telekomunikasi serta operator telekomunikasi dan aplikasi tidak semata-mata dilihat dari kacamata entitas ekonomi belaka. Ada aspek strategis lainnya yang belum dioptimalkan, yakni bisa dimanfaatkan untuk mempercepat cita-cita menuju negeri harapan, berupa kokohnya Wawasan Nusantara dan Sistem Pertahanan Negara. Mestinya, kompetensi dan produk PT INTI mampu menjadi solusi terhadap sistem telekomunikasi di sepanjang perbatasan negara, pulau terluar, daerah tertinggal dan peralatan telekomunikasi dari TNI dan Kepolisian.
Kelemahan penelitian dan pengembangan
Jangan lupa, PT INTI pernah memiliki kemampuan atau kompetensi sebagai andalan industri manufaktur telekomunikasi dalam negeri. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang cukup tinggi pada era 80-an hingga 90-an. Pada era itu pengembangan industri manufaktur telekomunikasi dalam negeri cukup berhasil. Akibat krisis ekonomi, kemampuan tersebut menurun cukup drastis. Namun, aset perusahaan dalam bentuk kompetensi serta tacit and knowledge management yang menempel dalam postur SDM masih terpelihara dan tersedia dalam jumlah yang cukup memadai dan siap untuk dipacu. Jika upaya restrukturisasi PT INTI berhasil dilakukan, akan dapat segera bertumbuh lagi dimasa yang akan datang.
Liberalisasi impor
Kini, eksistensi PT INTI terancam dari berbagai punjuru. Kondisi deindustrialisiasi PT INTI bisa semakin parah karena liberalisasi impor semakin cepat. Selain itu juga karena pelaksanaan Mutual Recognition Arrangement (MRA) atau perjanjian antar negara yang memungkinkan produk impor masuk dengan hambatan yang minimal. Sehingga semakin kuatnya pesaing dari manufaktur berbiaya rendah, yang membanjiri pasar dalam negeri. Dari aspek rivalitas, persaingan PT INTI dengan MNCs sangat tinggi dan umumnya posisi industri dalam negeri relatif lemah.
Pemerintah pusat dan daerah harus memiliki tekad dan kesadaran bahwa industri perangkat telekomunikasi nasional adalah entitas yang tidak hanya berperan sebagai agen atau distributor dari MNCs, tetapi juga harus memiliki kemampuan rekayasa (engineering). Oleh sebab itu pemerintah harus menekankan visi PT INTI yang bisa mejadi lokomotif industri telekomunikasi andalan dan menjadi pelopor bagi industri kecil dan menengah menuju bisnis bertaraf Internasional. Para pengelola PT INTI harus memiliki strategi jangka pendek yakni optimalisasi terhadap portofolio perusahaan. Optimalisasi diatas tidak harus dengan cara menutup kegiatan produksi atau fabrikasi. Tetapi tetap fokus kepada kegiatan jasa rekayasa dan atau pengembangan produk-produk untuk meraih ceruk pasar yang diabaikan oleh MNCs. Sedangkan strategi jangka menengah dan panjang adalah mempersiapkan diri menjadi industri komponen atau semikonduktor dan industri perangkat, baik devices, network maupun aplikasinya.
*) HEMAT DWI NURYANTO, Chairman Zamrud Technology, Alumnus UPS
Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Leave a reply