Kompas, 12 November 2009

Ada faktor mendasar yang menjadi penyebab masih buruknya manajemen penanganan bencana alam di negeri ini. Yakni belum tersedianya sistem informasi bencana alam yang ideal. Kesemrawutan dalam penanganan gempa bumi yang terjadi di Jawa Barat dan Sumatera Barat menunjukkan pentingnya sistem informasi dan ketersediaan peta bencana yang berbasis SIG ( Sistem Informasi Geografis ) serta terintegrasi dengan sistem e-Goverment pemerintah daerah. Terhambatnya arus informasi di daerah bencana bisa menyebabkan data korban menjadi simpang siur, informasi kebutuhan para pengungsi menjadi tidak jelas, tindakan medis terhadap korban terlambat dan penyaluran bantuan menjadi kalang kabut. Tak pelak lagi, teknologi informasi dan komunikasi merupakan ujung tombak manajemen informasi bencana. Ironisnya, hingga saat ini inisiatif  sistem informasi bencana pemerintah daerah  sangat terbatas dan sudah ketinggalan jaman. Begitupun pihak operator telekomunikasi lebih banyak mengatasi persoalannya sendiri untuk memulihkan infrastruktur dan layanan serta menyelamatkan aset investasinya.

Sistem informasi bencana alam harus terpadu dengan sistem e-Goverment yang telah dibangun oleh pemerintah daerah dan memenuhi ketentuan yang telah digariskan oleh International Strategy for Disaster Reduction (ISDR). Dengan empat tahapan yakni tahap tanggap darurat (response phase), tahap rekonstruksi dan rehabilitasi, tahap preventif dan mitigasi, dan tahap kesiapsiagaan (preparedness). Kepala daerah sebagai penanggung jawab penanganan bencana mestinya juga memiliki sistem pendukung pengambilan keputusan alias Decision Support System (DSS) bencana alam. Sistem tersebut juga sangat membantu Departemen Kesehatan yang pada saat ini salah satu program utamanya menangani korban bencana secara cepat. Dalam rangka itu modul aplikasi sistem informasi bencana yakni Emergency Medical Care Information System ( EMCIS) merupakan solusi yang tepat.

Dukungan sistem informasi pasca terjadinya bencana alam sangat diperlukan untuk memperlancar proses identifikasi para korban, kerugian materi dan infrastruktur. Dukungan sistem tersebut juga dapat menjadi suatu pertimbangan pengambilan keputusan guna mengambil langkah-langkah rehabilitasi pasca terjadinya gempa. Agar sistem informasi tersebut dapat diterima secara cepat, tepat dan akurat, maka harus dapat diakses dengan teknologi internet. Untuk mewujudkan sistem informasi bencana diperlukan sinkronisasi dengan SIAK ( Sistem Informasi Administrasi Kependudukan ) dan data pemukiman seperti jumlah rumah, data infrastruktur dan data kawasan yang ada didaerah tersebut. Dari data tersebut nantinya dapat dibuat sistem informasi geografis yang memperlihatkan informasi sebelum dan sesudah terjadi bencana dengan melakukan overlay. Sehingga dapat ditentukan dengan tepat dan cepat jumlah kerugian jiwa, materi dan sarana-prasarana di daerah kejadian bencana.

Sistem informasi bencana yang akan dikembangkan harus ditetapkan terlebih dahulu spesifikasi dan ketentuan-ketentuan teknisnya. Hal itu akan menentukan keberhasilan pengembangan sistem sekaligus menjadikan perencanaan dan implementasi sistem dapat berlangsung dengan sistematis dan terarah. Untuk mewujudkan sistem tersebut diperlukan lima langkah. Yang pertama adalah survei untuk identifikasi kebutuhan sistem, yang mencakup : data atribut maupun data spasial, laporan/informasi yang harus dihasilkan, aliran data dan laporan, prosedur komunikasi antar daerah dan pusat, dan beberapa aspek penting lainnya. Langkah kedua adalah disain sistem, yang mencakup : database, data masukan, laporan/informasi keluaran sistem, prosedur pemrosesan data, dan prosedur komunikasi. Langkan ketiga adalah pembuatan program aplikasi, yang mencakup modul-modul : informasi kependudukan perwilayah,  informasi kepemilikan tanah dan rumah, informasi mengenai sarana dan prasarana. Langkah keempat adalah instalasi sistem, yang mencakup : hardware,software aplikasi, internet. Dan langkah kelima merupakan kegiatan training untuk user (operator Admin).

Format informasi yang dihasilkan bisa berbentuk data geografis yang dapat menginformasikan keadaan bencana dengan cepat. Data geografis merupakan data unit atau area yang tersebar secara geografis yang terbagi menjadi dua bagian. Yakni  data spasial ( data lokasi, posisi, bentuk ) dan data tekstual  ( data deskripsi teknis, historis, administrasi, dan lain-lain ). Basis data yang diperlukan untuk pengembangan sistem informasi bencana alam meliputi : data citra satelit pertahun, data peta kawasan, data infrastruktur, data land use, data kemiringan, data utilitas, data tekstual, data kependudukan,  data kepemilikan tanah dan rumah dan data infratruktur di daerah.

Pengembangan sistem informasi bencana alam yang cukup krusial adalah modul aplikasi Emergency Medical Care Information System. Setelah terjadi bencana bantuan medis merupakan bantuan yang sangat penting. Mengingat banyaknya korban yang akhirnya meninggal gara-gara terlambat mendapatkan pertolongan. Mengambil pengalaman dari kejadian gempa besar di dunia, fakta menunjukkan bahwa sekitar 80 persen dari korban meninggal dunia pada 7 jam pertama setelah gempa terjadi.  Sayangnya, sering kali kesulitan untuk mendatangkan bantuan medis karena kerusakan infrastruktur ke daerah yang terkena bencana. Kalaupun bantuan medis dapat didatangkan, jumlah petugas yang dapat dikirim juga terbatas. Padahal banyak dari korban yang terluka parah biasanya membutuhkan perawatan yang lebih intensif sehingga perlu dikirim ke rumah sakit terdekat. Dengan keterbatasan infrastruktur  transportasi hal ini tentu saja sulit untuk dilakukan. Disinilah arti penting dari aplikasi Emergency Medical Care Information System. Karena aplikasi itu mampu melakukan fungsi telemedicine, telediagnostic, teleconsultation. Penerapan telemedicine, telediagnostic dan teleconsultation memungkinkan pelayanan kesehatan korban benvana dilakukan di tempat kejadian tanpa harus segera dibawa ke rumah sakit. Fungsi utama aplikasi itu adalah memudahkan diagnosa, perawatan, monitoring, dan akses terhadap tenaga ahli dan informasi pasien tanpa tergantung pada keterbatasan jarak atau lingkungan.

*) HEMAT DWI NURYANTO, Chairman Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Perancis

Share