Kontan Sabtu, 16 Januari 2010

 

RIBUAN industri radio siaran di negeri ini telah dicekam oleh pesatnya kovergensi teknologi informasi. Banyak pihak yang memprediksi bahwa siaran konvensional akan terkubur oleh perkembangan TIK (teknologi informasi dan komunikasi). Tak pelak lagi, reinventing merupakan jawaban jitu bagi entitas industri radio siaran jika ingin survive. Reinventing radio siaran bisa diartikan sebagai usaha bersama untuk menemukan kembali nilai dan masa depan radio. Melihat kondisi bangsa Indonesia, maka langkah reinventing yang efektif adalah dengan mewujudkan kolaborasi siaran lewat lembaga independen. Contoh lembaga semacam itu adalah e-Broadcasting Institute (eBI). Merupakan lembaga yang menyediakan teknologi, layanan, dan inovasi bisnis bagi radio yang akan memanfaatkan kemajuan TIK terkini. Serta menyiapkan layanan transformasi bagi radio sehingga siarannya dapat dinikmati pendengar baik secara analog (AM/FM), digital (DAB/IBOC), Internet & mobile (live streaming dan podcasting), dan social media (facebook, twitter, dll). Kemajuan TIK memacu industri siaran menuju intelligence radio. Begitu juga dengan proses bisnis dan manajemen harus segera berubah. Seperti yang diserukan oleh Valerie Geller, Presiden Geller Media International. Dia adalah konsultan internasional untuk radio siaran yang pernah menangani sekitar 500 stasiun yang tersebar di 29 negara. Lewat bukunya yang berjudul “Creating Powerfull Radio”, Geller menawarkan visi praktis bagi stasiun radio dengan cara konsolidasi, restrukturisasi, kolaborasi dan transformasi teknologi.  

Agar bisa mencapai tingkatan intelligence radio, entitas radio siaran di negeri ini perlu membangun sistem operasional radio secara terintegrasi dari manajemen penyiaran hingga on-air, perawatan aset stasiun radio, pembinaan penyiar, hingga invoicing (traffic). Lebih lanjut, operasional, monitoring dan perawatan penyiaran dapat dilakukan secara remote disamping pertukaran data dan informasi yang efisien antar stasiun radio. Misalnya dalam bentuk Radio News Network. Jumlah radio di Indonesia yang memiliki ijin sekitar 1800. Diantara jumlah itu yang profitable hanya kurang dari 25 %.  Mayoritas dalam kondisi biaya operasional sangat dominan dan produktivitasnya rendah. Dari aspek teknologi belum online dan belum siap melakukan transformasi menjadi new media yang berbasis teknologi IP maupun digital (DAB/IBOC). Padahal, tren iklan di new media tumbuh pesat hingga 300% pertahun. Tren diatas mestinya memotivasi industri radio siaran di negeri ini segera memanfaatkan media baru guna meningkatkan belanja iklannya (RADEX) dan memperbaiki kinerja bisnisnya. Apalagi tren tersebut sejalan dengan kebijakan USO pemerintah yang mencanangkan internet masuk desa mulai 2010 untuk 70 ribu desa dengan teknlogi Wimax. Entitas industri radio siaran di neegri ini akan ditelan jaman jika tidak melakukan transformasi dan inovasi yang menyangkut broadcasting operation and management, perbaikan ekosistem dan model bisnis. Transformasi itu mudah dilakukan jika melakukan kolaborasi untuk membentuk life style baru. Apalagi jika sifat kolaborasi menuju kearah low budget namun high impact dalam proses bisnis radio siaran.

Jurnalisme radio harus melakukan repositioning kearah social web. Hal itu sejalan dengan premis Geller yang menyatakan bahwa situasi pendengar akan kembali kepada hakekatnya, makna pendengar bukan terletak kepada perangkat yang menyampaikan. Tetapi kontenlah yang paling penting.  Bahkan dalam risetnya, Geller menunjukkan bahwa radio dimasa mendatang akan kembali menempati posisi strategisnya. Hal itu terlihat dari rekomendasi US FEMA (US Federal Emergency Management Services) yang menyatakan bahwa radio merupakan salah satu elemen penting dalam untuk menghadapi kondisi darurat. Begitu pula di Jepang menyatakan bahwa sistem radio digital dioptimalkan sebagai alat penyebar informasi potensi bencana, atau Emergency Warning System (EWS). Dengan demikian semua perangkat digital bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi mengenai bencana alam. Ekosistem global untuk industri radio siaran mulai mengarah kepada optimasi bisnis konten. Diperlukan restrukturisasi pengelola industri radio siaran. Dalam kenyataan yang baru, peran General Manager, Program Director, News Director, On-Air Personalities, semuanya telah berubah. Untuk itulah deskripsi kerja perlu diperbarui. Sehingga organisasi radio siaran seolah berada di tengah-tengah industri yang terlahir kembali.


Beberapa praktisi radio siaran di negeri ini bersikap pesimis menghadapi sistem  radio digital dan internet. Padahal, pesimistis itu bisa ditepis jika stasiun radio itu berkolaborasi alias bergotong-royong. Sehingga sistem radio digital dan internet tidak menjadi momok yang menakutkan. Pada prinsipnya sistem diatas terdiri dari IBOC atau DAB, Mobile Radio Program, Podcast, IP based Audio Streaming dan Pandora.  Para praktisi radio di negeri ini kurang sadar bahwa semua sistem radio diatas akan menemukan bentuk maturitasnya. Apalagi infrastruktur internet broadband di negeri ini semakin baik dengan adanya proyek Palapa Ring dan program internet masuk desa. Dengan kondisi infrastruktur TIK sekarang ini, tentu saja sistem diatas akan semakin baik dan ekosistemnya semakin kondusif kare na distimulir oleh social web seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Sistem IBOC (HD Radio) selama ini terkendala oleh perijinan yang kaku, yakni satu frekuensi dan satu penyiaran. Kendala tersebut mestinya bisa diatasi dengan terobosan regulasi seperti  di Amerika dimana ijin frekuensi diberi hak untuk melakukan multi-casting. Sebagai gambaran, sebuah stasiun radio siaran bisa mempunyai channel audio analog dan digital counterpartnya, serta beberapa channel musik, 1 channel data streaming. Sedangkan sistem yang relatif tidak mengalami kendala berarti adalah sistem Podcast. Sistem tersebut sangat sederhana, murah dan platform terbuka. Sistem Podcast dengan spirit Web 2.0 yang berbasis RSS dapat di akses dengan berbagai macam metode seperti di komputer dengan iTunes, Podcast Alley, RSS reader dan lain-lain. Di iPod dengan iTunes. Di HP dengan Nokia Podcast, hingga Blackberry juga banyak program untuk mengoperasikan podcast ini. Seperti halnya sistem podcast, jenis yang kelima yakni IP based Audio Streaming sangat ideal dan murah untuk meningkatkan radio reach. Sistem radio yang terakhir adalah Pandora. Mulai menggeliat di Amerika. Pandora akan menjadi radio car yang digandrungi banyak orang lantaran memungkinkan sharing stasiun dan sharing lagu jarak jauh menggunakan cara yang lebih cerdas dan efektif, dan bisa digunakan dengan bantuan social web seperti Facebook dan Twitter. Pandora juga akan menjadi perangkat di kendaraan transportasi yang andal dan efektif. Hal itu terlihat dengan kerjasama antara Pandora dengan Ford Motors untuk merancang dashboard kontrol untuk mobile handset. Dalam waktu dekat ini, kendaraan akan memiliki Pandora built in. Dengan demikian kita bisa memasang sebuah iPhone menjadi sebuah audio jack untuk mendengarkan streaming radio di kendaraan. *) 

Oleh : Hemat Dwi Nuryanto *)

*) Chairman ZamrudTechnology, Alumnus UPS Toulouse Prancis

 

Share