Kompas, Kamis 24 Juni 2010
PERAN Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) terhadap ekonomi bangsa-bangsa di dunia ternyata sangat luar biasa. Hal itu ditunjukan oleh Prof. Hermann Simon dengan mengambil kajian ekonomi di beberapa negara. Ternyata UMKM merupakan hidden champions alias jawara tersembunyi yang mampu menjadi penyelamat ekonomi nasional. Prof. Hermann Simon adalah pemikir manajemen yang sangat berpengaruh setelah Peter Drucker. Dia pernah menjadi kepala European Marketing Academy (EMAC). Sebelum terjun dalam konsultan manajemen, dia adalah seorang profesor administrasi bisnis dan pemasaran di Universitas Mainz dan Bielefeld . Selain itu juga menjadi dosen tamu di berbagai universitas terkemuka seperti Harvard Business School, London Business School, Universitas Keio di Tokyo dan Massachusetts Institutes of Technology.
Hidden champions adalah sebutan bagi UMKM sukses dengan kriteria penguasaan pasar global, namun kurang dikenal oleh publik. Eksistensi hidden champions juga menjelaskan mengapa Jerman selama bertahun-tahun mampu menjadi negara pengekspor terbesar di dunia. Ternyata kekuatan ekspor Jerman tidaklah terletak pada korporasi raksasanya seperti Volkswagen, Siemens, dan BOSCH. Melainkan pada ribuan jawara UMKM. Sekedar catatan, separo dari jawara UMKM yang ada di dunia adalah perusahaan dari Jerman. Perkembangan serupa juga terjadi di negara-negara pengekspor besar lainnya. Kajian lain dari Prof Hermann yang cukup menarik adalah mengenai kiprah UMKM di Korea Selatan. Dibalik sukses Korea Selatan sebagai 10 negara pengekspor terbesar dunia, ternyata kontribusi UMKM juga sangat signifikan. Kontribusi ini disumbang terutama oleh hidden champions atau para jawara UMKM yang luput dari perhatian. Di samping etos kerjanya, para jawara itu unggul dalam inovasi dan mampu memenangkan pasar global karena ditopang oleh infrastruktur TIK yang baik. Ada baiknya kita meneladani bagaimana kiprah jawara UMKM di Korea Selatan. Pada 2008, keberadaan UMKM disana mencapai 3 juta atau 99 persen dari keseluruhan pelaku bisnis. Mempekerjakan 88 persen total tenaga kerja dan berkontribusi pada 43 persen total ekspor.
Sayangnya, di Indonesia penanganan UMKM baru sebatas pemberdayaan yang kurang esensial untuk menghadapi persaingan global. Hingga saat ini jumlah UMKM di negeri ini sudah mencapai sekitar 50 juta unit usaha. Jumlah sebesar itu diharapkan bisa mencetak hidden champions seperti di negara lain. Ternyata kunci keberhasilan para jawara UMKM terletak pada kemampuan mengenali ceruk pasar global dan memasoknya dengan produk-produk yang inovatif dengan menggunakan e-Marketspace. Itulah keunggulan kompetitif mereka, bukan karena harga murah, melainkan kualitas produk dan pelayanan serta kedekatan dengan pelanggan. Ditambah lagi mereka itu adalah pekerja keras dan cerdas yang sangat menguasai bidang keahliannya dan mudah beradaptasi dengan konvergensi TIK. Itulah sebabnya banyak UMKM di Korea Selatan justru lebih dikenal oleh para pemasok dan pelanggannya di pasar internasional. Hikmah yang bisa dipetik dari cerita diatas adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi KUKM di negeri ini untuk bergabung dalam komunitas pasar maya atau dalam istilah yang lebih keren dikenal dengan e-Marketspace. Secara singkat e-Marketspace adalah pasar maya di mana para penjual dan pembeli menukar jasa dan barang-barang yang dilakukan secara elektronik. Komponen e-Marketspace secara mudah mempertemukan para konsumen dan para pelaku bisnis. Serta memudahkan pertukaran informasi, spesifikasi barang, jasa, dan pembayaran. Juga menyediakan suatu infrastruktur kelembagaan. Pemberian kesempatan seluas-luasnya bagi UMKM di negeri ini untuk bergabung dalam komunitas pasar maya akan berdampak sangat positif. Untuk tahap pertama UMKM sebaiknya diberi fasilitas e-Marketspace yang standar. Antara lain adanya registrasi member, bisa menampilkan produknya dengan mudah, serta adanya fasilitas inquiry atau suatu fasilitas untuk meminta penawaran produk.
Salah satu pihak yang memiliki rencana besar dalam mewujudkan e-Marketspace di negeri ini adalah PT Telkom. Dengan cara membangun portal e-Commerce yang bernama Mojopia. Pada prinsipnya Mojopia merupakan bentuk strategi perluasan bisnis PT Telkom yang bertujuan memberikan dukungan bagi para pelaku bisnis di negeri ini dalam mengembangkan usaha mereka. Para pelaku UMKM berharap agar Mojopia segera beraksi lewat jaringan PT Telkom yang sudah eksis di seluruh pelosok negeri ini. Dengan demikian indeks konektivitas (conectivity scorecard) di negeri ini bisa meningkat secara signifikan. Pada era Netprenuer (wirausaha berbasis internet) sekarang ini dikenal empat model bisnis internet. Yang pertama, menjadikan internet sebagai etalase barang dagangan. Pelopor model ini adalah Amazon.com. Kedua, membuat situs dengan target mendapatkan banyak anggota atau hit ke situs agar ada pemasang iklan yang datang. Ini model yang paling umum dilakukan di internet. Ketiga, fee based transaction seperti yang dilakukan oleh bay.com dan paypal.com. Keempat, model bisnis broker (middleman) seperti yang oleh alibaba.com. Diharapkan, nantinya Mojopia tidak hanya cenderung ke model bisnis nomor tiga dan empat. Karena hal itu bertentangan dengan tren global. Apalagi menurut hasil survey yang dilakukan oleh konsultan Hill & Knowlton menyatakan bahwa sukses bisnis ritel online ternyata amat bergantung pada media sosial. Karena itulah, masa depan e-Commerce adalah social commerce. Hingga kini pengalaman masyarakat negeri ini dalam menggunakan Social-media juga semakin berkualitas. Jaringan social media dengan cepat berubah menjadi sumber informasi pelanggan melampaui sistem CRM ( Customer Relationship Management ) perusahaan. Dimasa mendatang mau tidak mau website perusahaan harus bisa terdistribusi ke social media. Dengan demikian pengelola Mojopia dan semua pihak yang berkepentingan memerlukan teknologi yang memungkinkan pengguna social media bisa masuk.
Tak bisa dimungkiri lagi era Wikinomics telah mencerahkan dan melancarkan pengembangan model bisnis baru bagi pelaku UMKM. Peradaban gelombang keempat akan menempatkan UMKM merupakan jenis pekerjaan masa depan yang sangat menjanjikan. Hal itu tentu saja disertai dengan tuntutan agar terus menerus melakukan inovasi. Infrastruktur e-Marketplace harus disesuaikan dengan basis pengetahuan yang menunjang inovasi. Dengan demikian kinerja UMKM di negeri ini bisa terkatrol dengan baik, sehingga akan memunculkan jawara-jawara baru.
*) Chairman Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Prancis
Share Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Leave a reply