Pikiran Rakyat, Senin 5 Juli 2010
Tatakelola industri pariwisata telah berubah secara drastis akibat konvergensi TIK dan jejaring sosial. Tentunya entitas yang terkait dengan pariwisata di negeri ini harus segera beradaptasi. Salah satu entitas yang terkena dampak konvergensi adalah pramuwisata atau tour guide. Peran pramuwisata telah mengalami transformasi dari yang sistem konvensional berubah menjadi sistem pramuwisata elektronik atau portabel. Hal itu bisa menjadi pisau bermata dua bagi profesi pramuwisata di negeri ini.
Transformasi pramuwisata tidak bisa dihindari karena merupakan tuntutan jaman. Oleh sebab itu pentingnya reposisi yang sebaik-baiknya bagi profesi pramuwisata di negeri ini agar tidak tergusur oleh kemajuan teknologi. Tak bisa dimungkiri, bahwa eksistensi pramuwisata elektronik bisa menutup kekurang-sempurnaan kinerja pramuwisata konvensional. Dengan layanan elektronik spektrum pariwisata yang semakin melebar dan mendalam bisa terkelola dengan baik. Eksistensi pramuwisata elektronik juga merupakan jawaban terhadap kurangnya jumlah dan kemampuan teknis dari pramuwisata di daerah. Fakta menunjukan bahwa daerah kunjungan wisata selalu bermasalah dengan pramuwisata. Baik dalam hal jumlah maupun kinerjanya yang kurang bisa diharapkan untuk memenuhi kepuasan para wisatawan. Salah satu contoh, setiap menjelang musim turis atau liburan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) senantiasa kekurangan pramuwisata dengan kompetensi tertentu.
Pramuwisata elektronik juga merupakan solusi terhadap sulitnya mencetak sosok pramuwisata dengan kualifikasi yang ideal. Selama ini program pelatihan kepariwisataan bidang assesor hasilnya belum memuaskan. Bidang assesor seperti pelatihan pramuwisata untuk jenis Wisata Diving, Arung Jeram, Wisata Goa dan lain-lain kurang efektif karena jenis wisata seperti itu memerlukan waktu dan ketrampilan khusus. Sehingga yang paling ideal menjalaninya adalah sosok yang sehari-harinya memang menggeluti bidang itu. Sistem pramuwisata elektronik juga bisa menjadi sarana penunjang bagi Pengembangan Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) di daerah. Sehingga materi pelatihan yang mengacu kepada CBT ( Competence Based Training ) bisa lebih efektif. Ketimpangan jumlah pramuwisata antara yang memiliki dan tidak memiliki lisensi juga bisa diatasi dengan adanya sistem pramuwisata elektronik. Selama ini telah terjadi polemik menyangkut legalitas profesi pramuwisata. Beberapa pihak menuntut bahwa profesi pramuwisata memerlukan legalitas kompetensi dalam bentuk lisensi. Dengan tingkatan lisensi pramuwisata muda, madya dan utama (pengatur perjalanan wisata). Namun, tuntutan adanya lisensi seperti diatas di lapangan menjadi bias. Karena arti dan nilai dari lisensi itu kurang mencerminkan kompetensi dan hanya sebagai alat birokrasi yang sarat penyalahgunaan dan manipulasi. Oleh sebab itu proses pembuatan peraturan tentang pramuwisata sebaiknya sesuai dengan semangat jaman dan harus memperhatiakan konvergensi TIK dan jejaring sosial.
Tak bisa dimungkiri lagi perkawinan antara radio, iPod dan internet pada saat ini telah menyegarkan industri pariwisata dunia. Perkawinan itu merupakan basis terwujudnya pramuwisata elektronik. Pramuwisata elektronik bukan bertujuan untuk menggusur profesi pramuwisata, namun menjadi penunjang yang sekaligus menutup rendahnya kompetensi. Selain itu pramuwisata elekronik juga bisa menumbuhkan ragam profesi lainnya seperti profesi penyiar radio, budayawan, dan lain-lain. Industri pariwisata dunia yang telah menjadi pilar ekonomi diwarnai dengan lahirnya pemandu wisata elektronik yang mampu melayani secara paripurna. Di negara maju iPod telah menjadi pemandu wisata yang sangat menarik. Salah satu contohnya adalah di Dublin yang sukses meluncurkan iWalks dalam bentuk podcast atau audio panduan yang tersedia bagi wisatawan. Hal itu sebagai salah satu cara untuk mendongkrak industri pariwisatanya. Hasilnya, Dublin telah menempati posisi puncak di Eropa untuk obyek wisata perkotaan.
Mestinya yang berpredikat sebagai kota kreatif di negeri ini seperti kota Bandung mampu berinovasi membuat semacam Bandung iWalks yang bisa diunduh secara luas sebagai bentuk promosi pariwisata yang cerdas. Sepeti Dublin iWalks yang telah membuat beberapa tema yang menarik seperti “Abad Pertengahan Dublin”, “Castles dan Katedral” dan lain-lain dalam bentuk seri audio, yang dilengkapi peta dalam bentuk pdf yang dapat didownload dari situs Web. Kini sudah ada sekitar 15.000 cityguide podcast yang bisa diakses secara gratis maupun berbayar. Menurut pakar industri pariwisata Profesor Dan Erkkila dari University of Minnesota’s, Industri pariwisata dunia semakin membutuhkan audio online bisnis wisata seperti iJourneys yang menggunakan iPod. Audio wisata memungkinkan para wisatawan lebih fleksibel dalam menikmati hari-harinya. Sekedar gambaran, para wisatawan dunia kebanyakan mengunduh audio wisata dari Viator sebelum melakukan perjalanan. Tidak berlebihan jika Viator mampu menciptakan sumber daya yang komprehensif untuk wisatawan. Apalagi Viator memiliki paket lebih dari 5.500 tur dan aktivitas di 400 kota dan lebih dari 80 negara. Alangkah baiknya jika proses dan teknologi diatas diadopsi sehingga industri pariwisata di negeri ini bisa tumbuh pesat sesuai dengan kemajuan jaman. Yang penting untuk diantisipasi dan terus dicermati adalah mengenai trendsetter teknologi iPhone dan iPod generasi terbaru. Hal itu merupakan peluang emas bagi pelaku industri kreatif dan pariwisata. Tak pelak lagi, iPhone dan iPod Touch generasi terbaru mampu memancarkan sinyal FM dan bisa ditangkap dengan radio FM dengan kualitas suara yang bagus. Karena mikrochip yang dipasang di iPhone dan iPod Touch generasi terbaru dilengkapi dengan teknologi receiver dan transmitter FM. Dengan demikian ketika kita menyalakan iPod dan mengaktifkan FM transmitternya. Lalu mencari gelombang FM yang kosong dan mencocokkan gelombang FM di iPod atau iPhone itu dengan radio FM, maka radio itu mampu berperan sebagai pramuwisata elektronik karena bisa menyiarkan konten kepariwisataan yang diinginkan.
Pemerintah pusat dan daerah mestinya mengapresiasi usaha yang terkait dengan metode yang cerdas untuk mendongkrak kunjungan wisatawan. Sangat diharapkan kiprah para inventor yang melakukan inovasi teknologi yang mampu mengembangkan sistem informasi pariwisata sehingga bisa mendunia dan terintegrasi dengan peta globe virtual. Hal itu sesuai dengan program Tourism Technology Association (TTA) yang menyatakan bahwa konvergensi TIK dan jejaring sosial merupakan faktor yang sangat penting untuk pemasaran industri pariwisata.
*) Chairman Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Prancis
Share Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Leave a reply